Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan negaranya untuk mendukung rencana perdamaian Jalur Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Syarat utamanya, rencana tersebut harus mengarah pada pembentukan negara Palestina berdampingan dengan Israel.

Optimisme hati-hati disampaikan Putin terkait 20 poin usulan Trump yang bertujuan mengakhiri konflik antara Israel dan Hamas di Gaza. Ia bahkan menyebut inisiatif tersebut sebagai “cahaya di ujung terowongan”.

Putin Tegaskan Dukungan dengan Syarat Pembentukan Dua Negara

Pernyataan Putin disampaikan dalam forum Klub Diskusi Valdai di Sochi, Rusia, Kamis (2/10/2025) waktu setempat. Forum ini merupakan pertemuan para pakar dan tokoh Rusia untuk membahas isu-isu strategis.

Dalam forum tersebut, Putin menegaskan bahwa Rusia mendukung rencana perdamaian Gaza asalkan mengarah pada solusi dua negara, yakni keberadaan Israel dan negara Palestina secara berdampingan. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Rusia yang selama ini konsisten mendukung pembentukan dua negara sebagai solusi akhir konflik Palestina-Israel.

“Secara umum, Rusia siap mendukungnya. Tentu saja, asalkan mengarah pada tujuan akhir yang selalu kita bahas. Rusia selalu menyokong pembentukan dua negara — baik Israel dan negara Palestina. Dan hal ini, menurut saya, adalah kunci solusi akhir bagi konflik Palestina-Israel,” kata Putin.

Isi Rencana Damai Trump dan Respons dari Berbagai Pihak

Rencana perdamaian Trump terdiri dari 20 poin yang mencakup seruan gencatan senjata, pembebasan sandera oleh Hamas dalam waktu 72 jam setelah gencatan senjata, pembebasan tahanan Palestina oleh Israel, perlucutan senjata Hamas, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.

Selain itu, rencana tersebut mengusulkan pengerahan “pasukan stabilisasi internasional sementara” dan pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dipimpin Trump, dengan anggota termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Rencana ini mendapat dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta sejumlah negara Arab, Muslim, dan Eropa. Namun, Hamas hingga kini masih membahas respons terhadap usulan tersebut.

Putin Kritik Diplomasi Barat yang Abaikan Konteks Lokal

Meski mendukung rencana ini, Putin memperingatkan bahwa pendekatan diplomasi unilateral dari Barat sering mengabaikan sejarah, tradisi, identitas, dan budaya masyarakat setempat. Hal ini berpotensi menggagalkan upaya perdamaian di kawasan tersebut.

Putin memandang penting untuk memahami durasi pemerintahan internasional atas Gaza dan mekanisme pengalihan kekuasaan kepada otoritas lokal. Ia juga menegaskan bahwa pandangan Palestina, negara-negara regional, dan Hamas harus menjadi bagian dari pertimbangan dalam perjanjian apa pun.

“Penting bagi kami bahwa Hamas juga mendukungnya, bahwa pemerintahan Palestina mendukungnya,” ujar Putin, seperti dilaporkan TASS.