Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,9 yang mengguncang Provinsi Cebu, Filipina, menyebabkan korban jiwa bertambah menjadi sedikitnya 72 orang. Bencana ini meninggalkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan menimbulkan luka-luka pada ratusan korban.
Otoritas setempat kini mengalihkan fokus penanganan dari pencarian korban hilang ke penanganan korban luka dan pengungsi. Tim penyelamat terus mengevakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa, terutama di kota Bogo yang berada di dekat pusat gempa.
Petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat berhasil menemukan jenazah seorang perempuan beserta anaknya dari reruntuhan hotel yang roboh pada Rabu malam (1/10). Selain itu, jenazah perempuan lain juga sudah dievakuasi dari lokasi kejadian sehari sebelumnya.
“Kita memiliki nol korban hilang, jadi asumsinya semua korban telah ditemukan,” ujar Junie Castillo, juru bicara Dewan Nasional Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Bencana (NBRM). Ia menambahkan bahwa beberapa unit penyelamat di Provinsi Cebu mulai diperintahkan untuk menghentikan operasi pencarian.
Pemerintah nasional melaporkan sebanyak 294 orang mengalami luka-luka, sementara sekitar 20.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Kerusakan paling parah terjadi di bagian utara Pulau Cebu, di mana hampir 600 rumah hancur total. Banyak warga memilih mengungsi dan tidur di jalanan karena khawatir dengan gempa susulan yang terus terjadi.
“Salah satu tantangannya adalah gempa susulan. Ini membuat warga enggan kembali ke rumah, meski bangunan tidak rusak,” kata Castillo dalam konferensi pers.
Gubernur Provinsi Cebu, Pamelo Baricuatro, menyerukan bantuan mendesak untuk ribuan warga yang terdampak. Mereka membutuhkan pasokan air bersih, makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara. Ia juga meminta para relawan untuk membantu menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.
“Banyak rumah hancur dan banyak keluarga membutuhkan bantuan untuk pulih… Mereka membutuhkan bantuan kita, doa dan dukungan,” ucap Baricuatro melalui akun Facebook resminya.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, terbang langsung ke Cebu pada Kamis (2/10) bersama sejumlah ajudannya untuk meninjau kerusakan dan mengkoordinasikan bantuan. Beberapa wilayah masih mengalami pemadaman listrik, dan puluhan pasien terpaksa dirawat di tenda darurat di luar rumah sakit yang rusak di Bogo.
Kantor pertahanan sipil daerah mencatat lebih dari 110.000 orang dari 42 komunitas terdampak gempa membutuhkan bantuan untuk membangun kembali rumah dan memulihkan mata pencaharian mereka.

Tinggalkan Balasan