Sejak pekan lalu, jalanan ibu kota Maroko, Rabat, berubah sepi di sore hari. Sebab, pusat kota menjadi lokasi demonstrasi yang dipimpin oleh kelompok anonim bernama GenZ 212, yang mayoritas anggotanya berusia remaja hingga 20-an tahun.
Gelombang protes yang bermula pada 27 September ini menuntut perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan. Mereka juga mengecam kebijakan pemerintah yang lebih memprioritaskan pembangunan stadion sepak bola dibanding kebutuhan dasar masyarakat.
Awal Mula dan Penyebaran Demonstrasi
Kelompok GenZ 212 pertama kali mengajak pemuda berdemonstrasi melalui platform Discord sekitar sebulan lalu. Aksi kecil di Rabat berkembang cepat, menjalar ke kawasan kelas pekerja dan kota-kota besar lain seperti Casablanca dan Agadir, hingga mencapai daerah kecil.
Kementerian Dalam Negeri Maroko melaporkan lebih dari 400 penangkapan terkait aksi yang berujung bentrokan dan kekerasan. Setidaknya 263 petugas keamanan dan 23 warga sipil terluka, sementara puluhan kendaraan dan properti rusak.
Bentrokan dan Korban Jiwa
Ketegangan memuncak pada 1 Oktober ketika polisi menembak demonstran di Kota Lqliaa, menewaskan dua orang. Kantor berita Maroko menyebut insiden itu sebagai tindakan pembelaan diri.
Tuntutan Utama GenZ 212
Para demonstran menyoroti besarnya dana yang dialokasikan untuk stadion sepak bola menjelang Piala Afrika 2026 dan Piala Dunia FIFA 2030, sementara fasilitas pendidikan dan kesehatan publik kekurangan dana dan sumber daya.
Protes juga dipicu oleh kasus kematian delapan perempuan, termasuk ibu hamil, di rumah sakit regional Agadir yang memicu kemarahan masyarakat dan kelompok hak asasi.
Karakter GenZ 212
Menurut analis politik Maroko, Rachid Belghiti, GenZ 212 merupakan “produk murni dari internet” tanpa struktur organisasi formal atau pemimpin yang dikenal publik, berbeda dari gerakan protes sebelumnya yang lebih terorganisir.
Respons Pemerintah dan Politik
Pemerintah awalnya merespons dengan lambat dan minim peliputan media pro-pemerintah. Namun, pernyataan resmi kemudian mengakui tuntutan pemuda dan membuka ruang dialog.
Menteri Perumahan Fatima-Zahra Mansouri menyebut protes sebagai “vitalitas demokratis” dan menegaskan pentingnya demonstrasi yang tertib. Menteri Kesehatan Amin Tehraoui mengakui kelemahan sistem kesehatan nasional dan mengambil tindakan dengan memecat Direktur Rumah Sakit Agadir.
Partai oposisi menuntut pemerintah menanggapi protes dengan serius, bahkan ada yang meminta pengunduran diri pemerintah. Sementara itu, Perdana Menteri Aziz Akhannouch tidak tampil merespons, memicu kritik di media sosial.
Peran Raja Mohammed VI dan Prospek Kedepan
Banyak warga menyerukan Raja Mohammed VI turun tangan, mengingat kekuasaan politik utama tetap berada di tangan raja dalam sistem monarki konstitusional Maroko.
Aktivis GenZ 212 menegaskan kritik mereka ditujukan pada pemerintah saat ini, bukan sistem monarki secara keseluruhan.
Belghiti memprediksi pemerintah akan lebih mengandalkan aparat keamanan untuk menekan demonstrasi, namun hal ini tidak akan menyelesaikan masalah struktural dalam pendidikan dan kesehatan.
Jika protes terus berlanjut dengan skala besar, kemungkinan Perdana Menteri Akhannouch terpaksa mundur semakin besar. Namun, situasi masih berkembang dengan banyak seruan menahan diri agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan