Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan hampir 42.000 warga Gaza mengalami luka serius yang mengubah hidup mereka, termasuk amputasi serta cedera kepala dan tulang belakang. Data ini menjadi gambaran memilukan dampak konflik yang terus berlangsung antara Israel dan Palestina.
Perkirakan seperempat dari korban luka tersebut adalah anak-anak yang harus menjalani rehabilitasi seumur hidup akibat cedera parah yang dialami. Kondisi ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang sudah sangat rentan itu.
Data Cedera dan Amputasi di Gaza
Menurut analisis terbaru WHO, dari total korban luka dalam dua tahun terakhir, sekitar 41.844 orang mengalami cedera yang mengubah hidup. Lebih dari 5.000 di antaranya harus menjalani amputasi. Laporan ini juga menyebut angka tersebut kemungkinan masih kurang, karena belum termasuk amputasi traumatis yang terjadi di luar fasilitas kesehatan.
“Anak-anak tampak sangat rentan terhadap amputasi,” kata Pete Skelton, penulis utama laporan tersebut, dalam konferensi pers yang dikutip AFP, Jumat (3/10/2025).
Cedera Umum dan Kondisi Sistem Kesehatan
Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menambahkan bahwa cedera akibat ledakan pada kaki dan lengan menjadi jenis luka paling umum yang membutuhkan rehabilitasi. Selain itu, cedera tulang belakang, otak traumatis, serta luka bakar parah juga banyak ditemukan.
“Cedera wajah dan mata yang parah juga sering terjadi, yang menyebabkan gangguan dan kerusakan signifikan,” kata Tedros, seraya menegaskan bahwa sistem kesehatan di Gaza kini berada di ambang kehancuran akibat meningkatnya jumlah korban dan kelangkaan sumber daya.
Saat ini, hanya 14 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi, bahkan sebagian besar tidak berfungsi secara maksimal.
Konflik dan Dampaknya
Perang antara Israel dan Gaza kembali memanas sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Balasan militer Israel menyebabkan lebih dari 66.000 warga Palestina tewas dan hampir 170.000 lainnya mengalami luka-luka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas.
Situasi darurat ini menimbulkan kebutuhan besar akan bantuan medis dan rehabilitasi jangka panjang, terutama untuk para korban luka berat yang kini menghadapi tantangan hidup yang kompleks di tengah konflik yang belum usai.

Tinggalkan Balasan