Kolaborasi Pemkab Malang dengan Bappenas dan Swasta untuk Mengembangkan Sektor Pertanian

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus berupaya mempercepat penurunan angka kemiskinan yang saat ini mencapai 8,78%. Salah satu strategi utama yang diambil adalah pengembangan sektor pertanian. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto, menjelaskan bahwa sektor pertanian menjadi fokus utama karena kontribusi besar terhadap tingkat kemiskinan di daerah tersebut.

Dalam rangka mengatasi masalah ini, Pemkab Malang bekerja sama dengan pemerintah pusat, khususnya Bappenas, serta sektor swasta. Tujuannya adalah untuk memetakan permasalahan dalam pengembangan sektor pertanian dan menemukan solusi yang efektif. “Kami menggandeng Bappenas untuk mengentaskan masalah kemiskinan di tiga desa di Poncokusuma,” ujar Tomie dalam acara Media Impact Visit 2025 – Empower Academy di Malang, Selasa (11/11/2025).

Pendanaan APBD untuk Pengembangan Pertanian

Sebelum kebijakan efisiensi Transfer ke Daerah (TKD) diterapkan, Pemkab Malang telah mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp90 miliar untuk pengembangan sektor pertanian. Namun setelah kebijakan tersebut, anggaran dipangkas menjadi hanya Rp20 miliar. Hal ini menyebabkan pembatasan dalam pengembangan sektor pertanian, terutama dalam hal bibit dan perbaikan saluran irigasi.

Untuk mengatasi keterbatasan dana, Pemkab Malang mencari solusi lain, seperti kolaborasi dengan pemerintah pusat dan sektor swasta. Dengan kerja sama ini, diharapkan bisa diperoleh bantuan dari K/L (Kementerian/Lembaga) dalam bentuk sarana produksi (saprodi) dan pembangunan infrastruktur sektor pertanian.

Peran Sektor Swasta dalam Pengembangan Ekonomi Lokal

Selain itu, partisipasi sektor swasta juga sangat penting dalam membangun ekonomi daerah. Salah satu contohnya adalah Bentoel Group yang melalui program Empower Agri memberikan penguatan kapasitas kelompok tani Puspa Agraria dan BUMDes Puspa Nagari. Program ini tidak hanya fokus pada tanaman hortikultura seperti melon, tetapi juga membuka peluang pengembangan komoditas lain di daerah-daerah lain.

“Model pengembangan ini bisa dikembangkan ke daerah lain dengan komoditas yang berbeda,” jelas Tomie. Dengan demikian, upaya mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Malang secara cepat dapat segera terealisasikan.

Program Empower Academy: Inkubasi Bisnis untuk Masyarakat Rural

Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, Dian Widyanarti, menjelaskan bahwa Empower Academy Kabupaten Malang adalah program inkubasi bisnis yang bertujuan mendukung pengembangan ekonomi pedesaan dan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan vokasi serta pengembangan usaha komunitas.

Pada tahun pertamanya, program ini dilaksanakan di Desa Bedali Kecamatan Lawang, bekerja sama dengan Pemkab Malang. Empower Academy memiliki dua pilar utama, yakni:

  • Empower Agri

    Fokus pada penguatan kapasitas kelompok tani Puspa Nagari melalui pelatihan agribisnis melon, pembangunan greenhouse edukasi dan rumah pembibitan, serta workshop vokasi agribisnis.

  • Empower Youth

    Berfokus pada peningkatan kompetensi dan keterampilan kerja pemuda desa melalui pelatihan vokasi dan sertifikat kerja yang relevan dengan kebutuhan industri.

Keberhasilan Program dalam Memperkuat Kapasitas Petani

Asisten Deputi Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Kementerian Koordinasi Pemberdayaan Manusia, Budhi Hidayat Laksana, menyampaikan bahwa musim panen melon menjadi simbol keberhasilan antara masyarakat BUMDes dan program Empower Academy Kabupaten Malang dalam memperkuat kapasitas petani serta tata kelola bisnis desa.

“BUMDesa Puspa Nagari membuktikan bahwa badan usaha desa dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal dengan model bisnis berkelanjutan,” katanya. Menurutnya, melalui Empower Academy Kabupaten Malang, para pelaku desa diharapkan mendapatkan pendampingan dalam aspek kewirausahaan, manajemen produksi, pemasaran digital, hingga penguatan jejaring kemitraan.