JAKARTA, Cariberita.id

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki rencana untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar di daerah terdampak bencana Sumatera dapat kembali berjalan pada awal Januari 2026. Hal ini dilakukan setelah pembersihan dan pemulihan fasilitas pendidikan terus dilakukan oleh kementerian/lembaga terkait.

“Untuk sektor pendidikan, sekolah dan madrasah yang sebelumnya terdampak lumpur diharapkan dapat kembali difungsikan pada awal semester genap, minggu pertama Januari,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring.

Selain itu, BNPB juga menyiapkan tenda-tenda darurat untuk memfasilitasi kegiatan belajar-mengajar para siswa. Tenda-tenda tersebut digunakan khusus untuk sekolah maupun madrasah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir dan longsor. “Nanti proses belajar mengajar akan kita lakukan di tenda-tenda sementara,” ujar Abdul.

Jumlah Siswa Terdampak Bencana

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa sebanyak 276.249 siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Data tersebut disampaikannya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna, di Istana Negara, Jakarta.

Selain siswa, sebanyak 25.936 guru juga terdampak banjir dan longsor yang melanda ketiga provinsi tersebut. “Siswa yang terdampak keseluruhan di tiga provinsi semua jenjang, 276.249. Yang guru yang terdampak, 25.936,” ujar Mu’ti dalam sidang kabinet paripurna.

Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar juga mengakibatkan 3.274 sekolah mengalami kerusakan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) masih akan melakukan pendataan terkait kategori kerusakan untuk sekolah-sekolah tersebut.

  • Berikut rincian jumlah sekolah yang terdampak:
  • 767 PAUD
  • 1.343 SD
  • 621 SMP
  • 268 SMA
  • 136 SMK
  • 23 PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)
  • 30 Sekolah Luar Biasa
  • 86 Lembaga Kursus dan Pelatihan

Total yang terdampak adalah 3.274 sekolah.

Upaya Pemulihan Fasilitas Pendidikan

Untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar bisa berjalan kembali, pemerintah dan lembaga terkait sedang bekerja keras untuk membersihkan dan memperbaiki infrastruktur pendidikan yang rusak. Proses ini melibatkan berbagai pihak, termasuk BNPB, Kemendikdasmen, dan dinas pendidikan setempat.

Selain itu, penggunaan tenda darurat menjadi solusi sementara bagi siswa yang sekolahnya tidak dapat digunakan. Tenda-tenda ini dirancang agar tetap nyaman dan aman untuk menjalankan aktivitas belajar-mengajar.

Proses pemulihan ini tidak hanya fokus pada bangunan sekolah, tetapi juga pada peralatan dan fasilitas pendukung lainnya seperti buku, alat tulis, dan peralatan laboratorium. Dengan adanya pendekatan yang komprehensif, diharapkan seluruh siswa dapat segera kembali ke tempat belajar mereka tanpa terganggu oleh dampak bencana.

Kondisi Saat Ini

Meskipun banyak sekolah yang mengalami kerusakan, upaya pemulihan terus berjalan. Tim dari BNPB dan Kemendikdasmen terus melakukan survei dan evaluasi untuk mengetahui tingkat kerusakan masing-masing sekolah. Dari data yang diperoleh, sebagian besar sekolah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sehingga bisa diperbaiki dalam waktu relatif singkat.

Namun, ada beberapa sekolah yang mengalami kerusakan berat, terutama di daerah yang paling terkena dampak banjir dan longsor. Untuk sekolah-sekolah tersebut, penggunaan tenda darurat menjadi salah satu alternatif utama.

Dengan target mulai Januari 2026, pemerintah berkomitmen untuk memastikan semua siswa dapat kembali belajar dengan kondisi yang lebih baik. Di tengah tantangan yang dihadapi, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kebencanaan menjadi kunci keberhasilan dalam pemulihan sektor pendidikan.