Upacara Bendera Pertama Setelah Hampir Satu Tahun, Kepala Sekolah Terharu

Di halaman sekolah SMPN 2 Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Neneng Putri Sari Ramadan berdiri tegak sambil memimpin upacara bendera pada Senin pagi. Mata kepala sekolah ini berkaca-kaca saat menghormati Sang Merah Putih yang perlahan naik ke puncak tiang. Momen ini bukan hanya rutinitas biasa, melainkan momen yang sangat berarti baginya.

Untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun memimpin sekolah tersebut, Neneng dapat mengajak lebih dari 80 siswa untuk melaksanakan upacara bendera di halaman. Ia mengungkapkan perasaannya yang campur aduk: senang, bangga, dan lega. “Kami tidak bisa melakukan upacara karena halaman selalu tergenang. Sekolah ini bahkan tidak punya halaman yang layak,” ujarnya.

Banyak upaya telah dilakukan agar sekolah mereka dapat menggunakan area yang lebih kering sebagai tempat upacara. Saat melihat siswanya kembali berbaris rapi dan menyanyikan Indonesia Raya sambil mengibarkan bendera, Neneng merasa sangat bersyukur. “Bagi orang lain mungkin sederhana, tapi bagi kami ini perjuangan,” katanya sambil mengusap air mata.

Upacara pagi itu memiliki makna penting bagi Neneng dan seluruh warga sekolah. Bagi mereka, upacara ini bukan sekadar seremonial, tetapi simbol bahwa mereka masih mampu berdiri, berjuang, dan mencintai negeri meskipun dengan segala keterbatasan. Upacara yang berlangsung pada Senin (1/12/2025) menjadi momen bersejarah bagi seluruh warga sekolah, menandai berakhirnya keterbatasan fasilitas yang sebelumnya menghambat pelaksanaan kegiatan formal.

Sejak awal 2025, SMPN 2 Martapura Barat menghadapi kendala besar dalam melaksanakan upacara bendera dan kegiatan lapangan lainnya. Sekolah yang dibangun di atas lahan rawa dan perairan di area persawahan tidak memiliki fasilitas lapangan yang memadai. Kondisi ini memaksa kegiatan olahraga harus dilakukan di selasar dan teras sekolah. Sementara upacara bendera tidak dapat terselenggara sama sekali, berbeda dengan sekolah-sekolah umum lainnya.

Titik balik datang berkat bantuan pembangunan lapangan olahraga dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar. Lapangan baru ini akhirnya mengubah kondisi fisik sekolah, memungkinkan seluruh siswa dan guru untuk pertama kalinya berkumpul dalam formasi upacara bendera yang lengkap.

Neneng bersyukur proposal ke Disdik Banjar akhirnya berhasil membuat sekolah memiliki lapangan. “Tidak ada lagi kini cerita yang terperosok. Kalau sebelumnya kan dari pelataran sekolahnya. Jadi sampai ada yang terperosok termasuk pengawas sekolah kami,” kata dia.

Ke depannya, lapangan baru yang merupakan bantuan dari Disdikbud Banjar itu juga akan dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga, membuka potensi prestasi siswa di bidang non-akademik. Meski sudah ada lapangan, Neneng mengakui bahwa sekolah tersebut belum aman. Sebab pagar belum ada dan akses pendekat ke sekolah dari jalan raya belum diperbaiki. “Jadi seratus persen nyan juga belum memadai. Tapi setidaknya bertahap sudah ada kemajuan berarti dari segi fasilitas,” kata Neneng.

Karena itu pula dia masih membuka ruang bagi pihak donatur manapun yang bisa membantu. “Ke depan saya masih terus berusaha untuk memajukan sekolah ini agar punya infrastruktur yang ideal,” kata dia.