Pengakuan Akademisi terhadap Buku “Ilmu Politik” Karya Boni Hargens
Buku “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital” yang ditulis oleh analis politik senior Boni Hargens mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan akademisi dan pengamat politik. Salah satu tokoh yang memberikan penilaian positif adalah Guru Besar Ilmu Politik Lili Romli. Menurutnya, buku ini layak menjadi referensi bagi mahasiswa maupun pelaku politik, baik di dalam maupun luar institusi demokrasi.
Buku ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang dinamika politik, mulai dari konsep teoritis hingga penerapan praktis. Dalam acara peluncuran dan bedah buku yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (11/4/2026), Prof Lili Romli menyampaikan bahwa buku ini mengandung wawasan yang mendalam dan dapat membantu pembaca memahami berbagai aspek ilmu politik.
Isi Buku yang Komprehensif
Menurut Prof Lili Romli, buku Boni Hargens tidak hanya menjelaskan sejarah ilmu politik, tetapi juga mengeksplorasi pendekatan-pendekatan ilmu politik, sistem politik, serta dampak teknologi terhadap dunia politik. Ia menyebutkan bahwa buku ini mampu melampaui beberapa mata kuliah karena penyajiannya yang sangat lengkap dan mendetail.
Selain itu, buku ini juga mencoba membantah anggapan negatif terhadap politik, yang sering dianggap sebagai aktivitas yang kotor dan penuh kecurangan. Dengan merujuk pada para filsuf seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles, Boni Hargens menunjukkan bahwa politik merupakan bentuk kebajikan yang penting dalam masyarakat.
Pendekatan Modern dalam Pembahasan
Dalam bukunya, Boni Hargens juga membahas isu-isu modern seperti digitalisasi dan peran intelijen dalam politik. Ia menjelaskan bagaimana teknologi digital telah mengubah cara politik berjalan, termasuk dalam konteks demokrasi. Selain itu, ia juga membahas hubungan antara intelijen dan demokrasi, yang secara alami memiliki karakteristik yang berbeda.
Prof Lili Romli menilai bahwa pendekatan ini sangat relevan dengan perkembangan saat ini. Ia menegaskan bahwa politik tidak hanya terbatas pada ruang lingkup kekuasaan, tetapi juga melibatkan seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Kritik dan Saran
Meski mendapatkan apresiasi, buku ini juga memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Namun, menurut Prof Lili Romli, kekurangan tersebut bukanlah kelemahan, melainkan sesuatu yang bisa disempurnakan. Ia bahkan menyarankan agar Boni Hargens segera menerjemahkan disertasinya yang berjudul “Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia” ke dalam bahasa Indonesia.
Selain Prof Lili Romli, Pengamat Politik Karyono Wibowo juga memberikan apresiasi senada. Menurutnya, buku ini merupakan paket lengkap yang mencakup berbagai pandangan filosofis, teori politik, dan mazhab politik Boni Hargens, yaitu politik kenegaraan.
Kontribusi Buku dalam Pemahaman Politik
Salah satu hal yang menarik menurut Karyono adalah bagaimana Boni Hargens berhasil menyelaraskan antara intelijen dan demokrasi. Meskipun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, ia menunjukkan bahwa keduanya bisa saling melengkapi dalam upaya menjaga kepentingan nasional.
Namun, ia juga menyampaikan pertanyaan terbuka: Apakah intelijen bisa sepenuhnya demokratis? Bisakah intelijen digunakan sebagai alat penguatan demokrasi atau justru sebaliknya?
Peneliti BRIN Syafuan Rozi juga mengajak semua stakeholder, khususnya para aktor politik, untuk membaca buku ini. Ia menilai bahwa buku ini dapat memperkaya perspektif dan ilmu politik, sehingga perdebatan dan pengambilan keputusan benar-benar didasarkan pada dasar politik-filosofis yang kuat.
Struktur dan Isi Buku
Buku “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital” terdiri dari 582 halaman yang dibagi dalam 10 bab. Topik-topik utama yang dibahas mencakup teori dan pendekatan ilmu politik, kekuasaan dan negara, sistem politik, ideologi politik, partai politik dan pemilu, pengaruh teknologi digital terhadap ilmu politik, serta intelijen dan demokrasi di era digital.
Buku ini sudah dicetak dua kali, yakni pada Oktober 2025 dan Februari 2026. Boni Hargens sendiri adalah intelektual muda kelahiran Manggarai, Flores, NTT. Ia pernah mengenyam pendidikan filsafat di STF Driyarkara sebelum menempuh studi ilmu politik di Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga mengikuti perkuliahan pascasarjana di Program Studi Asia Tenggara di Universitas Humboldt di Berlin dengan beasiswa dari KAAD. Setelahnya, ia meraih gelar doktor filsafat di bidang Kebijakan Publik dan Administrasi dari Universitas Walden, Minneapolis, Amerika Serikat.
Disertasi doktoralnya yang berjudul “Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia” terbit menjadi sebuah buku di Pennsylvania, Amerika Serikat tahun 2020 dan masih tersedia di situs dunia seperti Amazon.

Tinggalkan Balasan