Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mendesak Israel untuk segera membebaskan para aktivis yang ditahan setelah kapal Global Sumud Flotilla dicegat saat berlayar menuju Jalur Gaza. Di antara aktivis yang ditahan terdapat cucu mendiang Presiden Nelson Mandela.
Ramaphosa mengecam tindakan Israel tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan solidaritas kemanusiaan. Dia menegaskan bahwa pencegatan kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional merupakan pelanggaran putusan Mahkamah Internasional (ICJ).
Global Sumud Flotilla dan Tahanan dari Berbagai Negara
Armada Global Sumud Flotilla yang terdiri dari sekitar 45 kapal membawa para politisi dan aktivis dari beragam negara, termasuk aktivis asal Swedia, Greta Thunberg. Mereka berangkat dari Spanyol dengan misi menembus blokade Israel terhadap Gaza.
Nkosi Zwelivelile Mandela atau Mandla, cucu laki-laki Nelson Mandela, turut serta dalam misi ini. Dalam wawancara sebelum keberangkatan, Mandla menyatakan bahwa kondisi hidup warga Palestina di bawah pendudukan Israel lebih buruk daripada pengalaman warga kulit hitam Afrika Selatan saat apartheid.
Respons Afrika Selatan dan Israel
Afrika Selatan telah membawa kasus dugaan genosida oleh Israel di Jalur Gaza ke Mahkamah Internasional. Tuduhan itu disanggah oleh Israel. Ramaphosa menyebut pencegatan Global Sumud Flotilla sebagai pelanggaran serius terhadap solidaritas global untuk meringankan penderitaan warga Gaza dan memajukan perdamaian.
Menurut laporan Anadolu Agency, lebih dari 450 aktivis dari 47 negara yang terlibat dipindahkan ke pelabuhan Ashdod, Israel bagian selatan, setelah sebagian besar kapal dicegat. Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan para aktivis akan dideportasi ke Eropa setelah tiba di pelabuhan tersebut.
Israel juga mengonfirmasi bahwa satu kapal dari armada itu masih berlayar di perairan jauh dan berjanji akan mencegah kapal tersebut mendekati Jalur Gaza.

Tinggalkan Balasan