Pembiayaan Melalui Obligasi dan Proyeksi Kinerja Mayora Indah Tbk.



PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), perusahaan produsen Kopiko, kembali mengambil langkah strategis dalam pembiayaannya dengan menerbitkan obligasi. Ini merupakan kelanjutan dari Obligasi Berkelanjutan III Mayora Indah Tahun 2025 yang sebelumnya telah diluncurkan. Meskipun kinerja Mayora terlihat lesu sepanjang tahun ini, penerbitan obligasi ini menawarkan berbagai opsi yang menarik bagi investor.

Dalam prospektus yang dirilis, Mayora akan menerbitkan obligasi senilai total Rp827,55 miliar. Penerbitan tahap III ini terdiri dari dua seri, yaitu Seri A dan Seri B. Seri A memiliki tenor lima tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 5,85% per tahun, sementara Seri B memiliki tenor tujuh tahun dengan tingkat bunga sebesar 6,15% per tahun.

Seri A, yang memiliki jumlah pokok sebesar Rp363,52 miliar, menawarkan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan suku bunga saat ini sebesar 110 basis point (bps). Sementara itu, Seri B yang memiliki jumlah pokok sebesar Rp464,03 miliar, memiliki jarak 140 bps terhadap suku bunga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa obligasi Mayora memiliki daya tarik yang cukup baik meskipun tingkat bunganya lebih rendah dibandingkan obligasi korporasi lainnya dengan rating serupa.

Obligasi ini juga telah mendapatkan peringkat utang dari Pefindo dengan peringkat idAA. Jika dibandingkan dengan obligasi korporasi dengan rating double A, yield yang ditawarkan oleh Mayora lebih rendah. Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), obligasi dengan rating idAA bertenor lima tahun memiliki yield sebesar 6,67%, sedangkan obligasi bertenor tujuh tahun memiliki yield sebesar 7,02%.

Meski yield lebih rendah, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai bahwa daya tarik produk surat utang tidak hanya dilihat dari perbandingan yield. Faktor historis penerbitan dan kondisi industri juga menjadi pertimbangan penting. Nantinya, bunga obligasi akan dibayarkan setiap triwulan, dengan pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 18 Maret 2026. Pelunasan pokok dilakukan secara penuh (bullet payment) pada saat jatuh tempo, yakni 18 Desember 2030 untuk Seri A dan 18 Desember 2032 untuk Seri B.

Performa Saham dan Proyeksi Kinerja

Posisi saham Mayora Indah tengah tertekan 22,66% sepanjang tahun 2025 (year-to-date/YtD). Harga saham Mayora saat ini berada di level Rp2.150 per saham pada perdagangan Jumat (5/12/2025). Namun, sejumlah sekuritas masih memberikan proyeksi positif terhadap saham MYOR.

Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia dalam risetnya tertanggal 6 November 2025, menilai peluang membaiknya kinerja fundamental Mayora terbuka di kuartal IV/2025. Ia mengatakan bahwa harga komoditas yang mulai membaik akan mendorong pemulihan margin perseroan. Menurut proyeksinya, Gross Profit Margin MYOR akan rebound ke level 22% pada kuartal IV/2025, yang sejalan dengan target manajemen.

Selain itu, MYOR dinilai akan terus menyesuaikan harga jual rata-rata secara selektif pada level 5–10% pada kuartal IV/2025. Meskipun begitu, manajemen menyebut bahwa MYOR akan berhati-hati dalam menetapkan harga untuk melindungi margin perseroan ke depan. “Kami menilai margin telah mencapai titik terendah dan pada kuartal IV/2025 akan membaik, didukung oleh meredanya biaya input, momentum ekspor yang lebih baik, permintaan stok menyambut Imlek pada 2026, dan beberapa pesanan awal Lebaran 2026,” tambahnya.

MNC Sekuritas merekomendasikan hold pada saham MYOR dengan target harga Rp2.300 per saham. Alasannya adalah momentum penjualan domestik yang lebih lambat, volatilitas harga bahan baku, ketidakpastian tarif impor, serta biaya keuangan yang lebih tinggi dari refinancing obligasi.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya tertanggal 20 November 2025, merekomendasikan buy terhadap saham MYOR. Salah satu alasannya adalah prediksi manajemen tentang pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal IV/2025, didukung oleh suntikan fiskal pemerintah yang diprediksi mendorong konsumsi pasar massal.

Menurut analis, momentum penjualan MYOR pada Oktober 2025 telah membaik dengan pendapatan domestik tumbuh dua digit, sementara pasar ekspor mengalami rebound dengan naik lebih dari 50% MoM di Filipina, China, hingga Vietnam. Meskipun demikian, manajemen merevisi target pertumbuhan pendapatan tahun 2025 menjadi 6–8% dari 10%.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun kinerja Mayora belum sepenuhnya pulih, proyeksi jangka panjang tetap optimis. Inovasi produk yang berkelanjutan dan inisiatif strategis diharapkan mampu menjaga kinerja perusahaan dari volatilitas harga bahan baku dan mendukung margin.

Berdasarkan prediksi analis, MYOR bakal mampu membukukan pendapatan senilai Rp38,53 triliun, dengan laba bersih senilai Rp2,75 triliun pada tahun penuh 2025. Dengan demikian, analis merekomendasikan buy terhadap saham MYOR dengan target harga Rp2.700 per saham.