Peristiwa Bendera Putih di Aceh sebagai Simbol Kegelapan

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait viralnya pengibaran bendera putih oleh warga Aceh. Menurutnya, hal tersebut masih dalam pemeriksaan lebih lanjut. “Saya belum tahu. Nanti saya cek dulu ya,” ujar Tito setelah memberikan arahan kepada kepala daerah Papua di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 16 Desember 2025.

Tito juga tidak bersedia memberikan komentar lebih lanjut mengenai surat yang dikeluarkan pemerintah Aceh untuk meminta bantuan dari lembaga PBB seperti United Nation Development Programme (UNDP) dan United Nations Children Funds (Unicef).

Bendera Putih sebagai Simbol Kegelapan

Bendera putih muncul di sepanjang jalan lintas Sumatera tiga minggu setelah bencana melanda wilayah tersebut. Bendera-bendera itu dipasang di kayu yang ditancapkan di jalan penghubung antara Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kota Langsa. Bagi masyarakat Aceh, bendera putih menjadi simbol bahwa mereka menyerah dalam menghadapi penanganan banjir dan tanah longsor.

“Kami merasa marah, frustasi, harapan, dan tuntutan agar diperhatikan sebagai warga negara,” kata Muhammad Alkaf, warga asal Kota Langsa, Aceh. Ia mengaku sendiri menjadi korban banjir, namun ia menyatakan banyak masyarakat lain yang terdampak lebih parah darinya. Pengibaran bendera putih dilakukan secara kolektif oleh masyarakat Aceh, yang ingin menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto.

Tanggapan dari Relawan Bencana

Nauval Pally Taran, relawan berusia 33 tahun yang membantu penanganan bencana di Aceh, mengatakan bahwa bendera putih merupakan tanda keputusasaan dari masyarakat setempat. Menurutnya, masyarakat di daerah terdampak seperti Aceh Tamiang dan Aceh Utara sangat kewalahan menghadapi bencana.

“Sebagai relawan yang turun langsung ke lapangan, kami benar-benar merasakan ketidakberdayaan masyarakat untuk menghadapi kondisi sulit ini,” kata Nauval. Ia mengakui bahwa bantuan logistik seperti air bersih sudah mulai tersalurkan, tetapi distribusi tidak merata, terutama di Aceh Tamiang.

Rekaman Foto dan Pesan Masyarakat

Pemasangan bendera putih tersebut terekam dalam foto yang diambil oleh fotografer Tempo, Ilham Balindra, pada Senin, 15 Desember 2025. Dalam keterangan unggahan foto, bendera putih dipasang pada Rabu malam Desember 2025. Bendera putih dianggap sebagai simbol bahwa masyarakat tidak sanggup mengatasi dampak bencana.

Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil menilai pengibaran bendera putih mencerminkan penderitaan mendalam yang dialami warga Aceh. Legislator PKS dari daerah pemilihan Aceh ini meyakini konstituennya telah kewalahan menghadapi lambannya penanganan pemerintah.

“Masifnya kain putih yang ditancapkan di jalanan dan disangkutkan di jembatan menggambarkan ketidaksanggupan warga menanggulangi dampak bencana,” ujar Nasir Djamil. Ia menjelaskan bahwa masyarakat masih berjibaku membersihkan rumah dan lingkungan permukiman dengan peralatan seadanya. Akibatnya, pembersihan lumpur dan material sisa banjir berlangsung lambat.

Harapan Masyarakat kepada Pemerintah

Di tengah kondisi tersebut, warga menaruh harapan besar agar pemerintah pusat segera menurunkan bantuan secara masif. “Masyarakat sudah sangat menderita karena rumah dan kawasan permukiman mereka belum menunjukkan tanda-tanda ada pembersihan dan pemulihan,” ujar Nasir.

Ia menilai pengibaran bendera putih sebagai pesan kuat yang mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional. Dengan penetapan tersebut, bantuan internasional diharapkan dapat segera menjangkau wilayah terdampak.

Penjelasan Presiden tentang Penanganan Bencana

Dalam sidang kabinet paripurna, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah mengerahkan bantuan untuk penanganan bencana. Dia mengklaim situasi terkendali.

“Kami sudah kerahkan, ini tiga provinsi dari 38 provinsi. Jadi, situasi terkendali. Saya monitor terus, ya,” kata Prabowo dalam sidang Kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin, 15 Desember 2025.

Dian Rahmah Fika dan Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan ini.