Perjuangan Seorang Petani dalam Menyelamatkan Alam

Di tengah berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banjir di Sumatra dan Aceh, serta longsor di Jawa Barat, isu kerusakan hutan kembali menjadi perhatian utama. Penggundulan lahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun menyebabkan kemampuan tanah untuk menyerap air melemah, sehingga banjir mudah terjadi ketika hujan turun deras.

Namun, di tengah situasi tersebut, ada kisah yang memberi pelajaran penting bahwa upaya menjaga hutan bisa membawa perubahan besar bagi lingkungan. Kisah itu datang dari seorang warga Wonogiri yang dikenal sebagai tokoh penghijauan, yaitu Mbah Sadiman.

Profil Mbah Sadiman

Mbah Sadiman adalah pria berusia 73 tahun yang tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Ia dikenal luas berkat kegigihannya dalam melakukan penghijauan. Meski hidup dalam kesederhanaan, semangatnya menjaga alam tidak pernah luntur. Setiap hari, ia masih sanggup menapaki bukit terjal sambil memikul bibit pohon di pundaknya.

Ia tinggal bersama istrinya di rumah sederhana berukuran 9 x 6 meter dengan lantai tanah, mencerminkan kehidupannya yang jauh dari kemewahan. Sebagai petani tumpangsari di lahan milik Perhutani, Mbah Sadiman menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Saat tidak musim panen, ia mencari penghasilan tambahan dengan menjual rumput untuk pakan ternak yang ia kumpulkan dari hutan lalu dijual ke pasar.

Meski penghasilannya pas-pasan, ia memiliki visi besar: menghentikan siklus kekeringan panjang yang setiap tahun melanda wilayahnya. Kesadaran itu tumbuh sejak 1990-an, ketika Wonogiri mengalami kekeringan ekstrem hingga banyak warga kesulitan mendapatkan air bersih.

Upaya Penghijauan yang Berkelanjutan

Pada saat itulah Mbah Sadiman memahami bahwa penghijauan adalah kunci, bukan sekadar solusi jangka pendek. Ia memilih menanam pohon beringin—pohon yang dikenal mampu menyimpan air dan menjaga struktur tanah agar tetap lembap. Pohon-pohon itu ia tanam di kawasan hutan yang dahulu gundul akibat kebakaran hebat. Meski lahan tersebut milik Perhutani, Mbah Sadiman mendapat izin untuk melakukan penghijauan di sana.

Tantangan terbesar bukan hanya tenaga dan waktu, tetapi juga biaya. Satu bibit beringin seharga sekitar Rp50 ribu, jumlah yang tidak kecil bagi petani dengan pendapatan terbatas. Belum lagi risiko bibit gagal tumbuh. Namun ia tak menyerah. Ia mencari berbagai cara, termasuk menukar 10 bibit cengkeh dengan 1 bibit jati, demi terus menambah tanaman di hutan.

Hasil yang Membuktikan Konsistensi

Ketekunan Mbah Sadiman selama puluhan tahun menghasilkan perubahan besar. Kini, lebih dari 100 hektare hutan di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan telah kembali hijau. Setidaknya 11 ribu pohon sudah ia tanam dan rawat hingga tumbuh besar—sebuah pencapaian luar biasa bagi seseorang yang bekerja sendirian tanpa dukungan modal besar.

Dampaknya langsung dirasakan warga. Mata air kembali mengalir, sumur tidak cepat kering, dan debit air tanah meningkat. Penghijauan ini tidak hanya menyelamatkan Wonogiri dari ancaman kekeringan, tetapi juga mengembalikan keseimbangan ekosistem yang sempat rusak.

Apresiasi atas Dedikasi

Dedikasi Mbah Sadiman tidak luput dari perhatian publik. Pada 2015, ia menerima Solo Award kategori Lingkungan Hidup. Setahun kemudian, kisahnya diangkat di acara Kick Andy pada 1 April 2016, dan ia meraih Kick Andy Heroes Award 2016, mengungguli 16 nominasi lainnya. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjuangan panjangnya dalam menjaga alam.

Pelajaran dari Seorang Petani

Kisah Mbah Sadiman adalah pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Di tengah ancaman bencana yang semakin sering terjadi akibat kerusakan hutan, komitmen seperti yang dilakukan Mbah Sadiman menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk kembali peduli pada lingkungan.

Semangatnya membuktikan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan besar—bahkan menyelamatkan seluruh desa dari kekeringan. Kisah ini patut diteladani, terutama ketika Indonesia terus dihadapkan pada ancaman banjir dan kekeringan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.