Ketegangan hubungan diplomatik antara Kolombia dan Israel melonjak setelah militer Israel mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan yang berlayar menuju Gaza. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengambil langkah tegas dengan memerintahkan pengusiran seluruh diplomat Israel yang masih berada di negaranya.
Insiden itu terjadi ketika sekitar 45 kapal dari misi Global Sumud Flotilla mencoba menembus blokade yang diberlakukan Israel atas Jalur Gaza. Pasukan Angkatan Laut Israel menaiki beberapa kapal tersebut, memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Kolombia yang menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional.
Pengusiran Diplomat Israel Sebagai Bentuk Protes
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan lewat media sosial X pada Kamis (2/10/2025), Petro menyatakan pengusiran “seluruh delegasi diplomatik Israel” sebagai respons atas apa yang ia sebut sebagai “kejahatan internasional baru” yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Pencegatan tersebut terjadi saat kapal-kapal tersebut berada kurang dari 90 mil laut dari Gaza, atau sekitar 170 kilometer dari wilayah Palestina. Para penumpang kapal terdiri dari politisi dan aktivis berbagai negara, termasuk tokoh lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg.
Penahanan Aktivis dan Warga Kolombia
Rina Hassan, anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina yang ikut dalam rombongan, melaporkan bahwa ratusan orang telah ditangkap secara ilegal dan ditahan secara sewenang-wenang oleh pasukan Israel. Greta Thunberg termasuk di antara mereka yang ditahan.
Presiden Petro juga menyoroti penahanan dua aktivis perempuan asal Kolombia, Manuela Bedoya dan Luna Barreto, yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla. Kedua warga Kolombia tersebut ditahan saat menjalankan aktivitas solidaritas kemanusiaan untuk Palestina di perairan internasional. Pemerintah Kolombia mendesak Israel untuk segera membebaskan mereka.
Respon Israel dan Dampak Hubungan Bilateral
Kementerian Luar Negeri Israel memastikan lewat pernyataan di media sosial X bahwa Greta dan aktivis lainnya dalam kondisi aman dan sehat. Mereka juga menyatakan para penumpang kapal yang dicegat sedang dipindahkan ke pelabuhan Israel.
Gustavo Petro, yang dikenal sebagai pengkritik keras Netanyahu, telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sejak tahun lalu. Meski demikian, menurut sumber Konsulat Israel di Bogota, masih terdapat empat diplomat Israel yang bertugas di Kolombia sebelum pengusiran ini.
Selain pemutusan hubungan diplomatik, Petro juga mengakhiri perjanjian perdagangan bebas dengan Israel yang berlaku sejak 2020. Dalam berbagai kesempatan, Petro bahkan menuding Netanyahu sebagai “pelaku genosida” dan mengkritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggapnya sebagai “kaki tangan genosida”.
Aksi Protes dan Konsekuensi Internasional
Pekan lalu, Petro menghadiri aksi protes pro-Palestina di New York bertepatan dengan Sidang Umum PBB. Ia menyerukan agar militer Amerika Serikat tidak mematuhi kebijakan Trump terkait Palestina. Sikap ini berujung pada pencabutan visa Petro oleh pemerintah AS.

Tinggalkan Balasan