Pentingnya Ketahanan Bisnis di Tengah Tantangan Global
Ketahanan bisnis menjadi isu yang semakin mendapat perhatian, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih dan berbagai tekanan makroekonomi yang masih dirasakan oleh pelaku usaha. Hal ini juga berlaku di Indonesia, di mana sejumlah sektor menghadapi tantangan berat dalam dua tahun terakhir.
Tantangan-tantangan tersebut meliputi fluktuasi nilai tukar, penurunan daya beli, serta disrupsi rantai pasok pasca-pandemi. Banyak pelaku usaha, khususnya di level menengah dan kecil, kesulitan menjaga keberlangsungan operasional saat krisis melanda. Di tengah situasi ini, muncul dorongan baru untuk memperkuat kemampuan adaptasi dan keberlanjutan bisnis lintas sektor.
Salah satu inisiatif yang muncul adalah #BusinessContinuityID, sebuah kolaborasi antara Infinity Continuity dan platform sosial Campaign for Good. Program ini diklaim bertujuan memperkuat budaya ketahanan bisnis di Indonesia dengan menghubungkan dunia korporasi dan organisasi sosial agar saling berbagi pengalaman dan strategi menghadapi krisis.
Peningkatan Kesadaran akan BCM
Langkah ini menjadi relevan mengingat kesadaran akan pentingnya Business Continuity Management (BCM) semakin meningkat, tetapi penerapannya masih terbatas di kalangan perusahaan besar. Di banyak organisasi, terutama lembaga sosial dan UMKM, kesiapan menghadapi gangguan operasional sering kali belum menjadi prioritas utama.
Melalui pendekatan inklusif dan berbasis komunitas, gerakan tersebut diyakini berupaya menjembatani kesenjangan tersebut. Berbeda dari program pelatihan korporasi pada umumnya, gerakan tersebut mengadopsi mekanisme seleksi terbuka dan partisipatif.
Proses Seleksi dan Pelatihan
Melalui proses open call nasional, lima organisasi sosial terpilih untuk mengikuti pelatihan BCM secara gratis, setelah melalui kurasi transparan di platform Campaign for Good. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari di Ascott Kuningan Jakarta ini diikuti 20 peserta lintas sektor, mulai dari eksekutif perusahaan hingga pemimpin komunitas.
Materi pelatihan mencakup standar global BCM, manajemen risiko, hingga simulasi krisis praktis yang menguji kesiapan organisasi dalam menghadapi situasi darurat. “Program ini tidak hanya soal mitigasi risiko, tetapi bagaimana setiap organisasi besar maupun kecil dapat tetap beroperasi dan melayani masyarakat, bahkan di masa krisis,” ujar Gary Ng, Founder sekaligus Director of Preparedness & Resiliency di Infinity Continuity di Jakarta, Jumat (10/10).
Kolaborasi Lintas Sektor
Sementara itu, William Gondokusumo, CEO Campaign for Good, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketahanan nasional. “#BusinessContinuityID menunjukkan bahwa ketahanan dibangun dari akar rumput. Kami ingin keberlanjutan bisnis menjadi gerakan bersama, bukan hanya jargon perusahaan besar,” ujar William Gondokusumo.
Salah satu peserta, Fin Ultrami dari Perhimpunan Filantropi Indonesia, menyebut pelatihan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana lembaga nirlaba bisa mengadopsi praktik ketahanan yang selama ini lebih identik dengan dunia korporasi. “Kami belajar bagaimana membangun prosedur yang lebih tangguh dan memahami bagaimana negara maju seperti Singapura menerapkan strategi ketahanan bisnis secara menyeluruh,” kata Fin Utami.
Menjadi Contoh Kolaborasi yang Efektif
Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana dunia usaha dan komunitas dapat saling belajar untuk memperkuat daya tahan ekonomi dan sosial. Di tengah ketidakpastian global dan ancaman krisis yang kian kompleks, upaya memperluas literasi ketahanan bisnis berbasis komunitas bisa menjadi pondasi baru bagi ekosistem keberlanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan