Komite Olimpiade Indonesia (KOI) akan segera menggelar pembicaraan dengan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menyusul munculnya kabar dugaan pengaturan skor oleh pebulutangkis nasional. Langkah ini diambil sebagai respons atas isu yang tengah menjadi perhatian publik.

Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa saat ini mereka masih berstatus berprasangka dan belum mengetahui dasar kuat terkait dugaan tersebut. Namun, dalam waktu dekat, KOI dan PBSI akan duduk bersama untuk menentukan sikap bersama. “Apabila terjadi pelanggaran, tentunya akan diberikan sanksi,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Pengaturan Skor Berpotensi Terjadi di Berbagai Cabang Olahraga

Menurut Okto, potensi praktik pengaturan skor tidak hanya terbatas pada bulutangkis. Cabang olahraga populer lain seperti sepak bola, basket, dan voli juga rentan terhadap praktek tersebut. Oleh sebab itu, ia menekankan perlunya ketegasan dari seluruh pemangku kepentingan agar fenomena ini tidak terulang.

“Tentunya harus ada ketegasan dan itu harus menjadi kesepakatan bersama semua stakeholder, mulai dari Kemenpora, KOI, hingga cabang olahraga, agar hal-hal yang tidak kita inginkan seperti ini tidak terjadi lagi,” tegas Okto.

Lebih lanjut, Okto juga menyinggung soal larangan doping dalam olahraga yang harus ditegakkan. Ia mengingatkan bahwa tata kelola olahraga tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, karena pengawasan juga datang dari level regional dan internasional seperti Olympic Council of Asia (OCA), International Olympic Committee (IOC), dan federasi internasional.

Dugaan dan Kasus Pengaturan Skor Sebelumnya

Belakangan ini, beredar kabar ada tujuh atlet bulutangkis yang diduga terlibat dalam pengaturan skor. Tiga di antaranya merupakan atlet nasional, sementara sisanya adalah mantan pemain klub besar. Namun, hingga kini belum ada informasi jelas mengenai periode dan turnamen yang dimaksud.

Kasus serupa bukan kali pertama terjadi di dunia bulutangkis Indonesia. Pada 2021, delapan pebulutangkis dikenai sanksi oleh Federasi Bulutangkis Dunia (Badminton World Federation/BWF) karena terbukti melakukan match fixing. Hukuman yang dijatuhkan beragam, mulai dari skorsing hingga larangan bertanding seumur hidup.