
Pola Hidup yang Tidak Sehat Berdampak Serius pada Kesehatan
Pengalaman Lilla Syifa: Awal Mula Terdiagnosis Diabetes
Tahun 2025 menjadi momen penting bagi Lilla Syifa, atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Cipa. Perempuan asal Surabaya yang kini tinggal di Jakarta ini tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah drastis setelah dokter mendiagnosis dirinya mengidap diabetes tipe 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults) pada Juli lalu.
Cipa mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia menyadari bahwa sejumlah kebiasaan dalam kehidupannya sehari-hari berkontribusi pada penyakit yang kini harus ia hadapi. Mulai dari kegemarannya mengonsumsi makanan manis, pola tidur yang tidak teratur, pengelolaan stres yang kurang baik, hingga minimnya aktivitas fisik.
Saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter, kadar gula darah Cipa mencapai 356 mg/dl. Angka ini termasuk sangat tinggi dan masuk dalam kategori hiperglikemia berat. Hasil pemeriksaan tersebut memberikan indikasi kuat bahwa ia mengidap diabetes. Selain itu, nilai HbA1c miliknya tercatat sebesar 11,5 persen. Padahal, menurut standar kesehatan, kadar HbA1c normal berada di bawah 5,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kadar gula darah Cipa sudah lama tidak terkendali.
FOMO dan Kebiasaan Makan yang Tidak Sehat
Salah satu faktor utama yang memicu kondisi kesehatannya adalah kebiasaan Cipa mengikuti tren makanan manis yang viral di media sosial. Baginya, dessert manis menjadi pelarian dari tekanan pekerjaan yang ia alami saat itu.
“Aku tidak memiliki riwayat keluarga dengan diabetes. Jadi, penyebab utamanya adalah gaya hidup, pola makan, dan juga pengelolaan stres,” ujarnya dalam unggahannya.
Ia menjelaskan bahwa hampir setiap hari dirinya mengonsumsi makanan manis, terutama jajanan yang sedang ramai dibicarakan. “Aku sering banget makan dessert. Aku selalu mencari makanan yang manis, seperti brownies, donat, atau matcha,” tambahnya.
Kebiasaan ini sering dilakukan setelah makan besar. Makan siang dan makan malam biasanya ditutup dengan hidangan penutup yang manis. “Aku bisa dibilang makan manis tiga kali sehari. Itu terjadi hampir setiap hari, terutama tahun lalu hingga awal tahun 2025,” ujarnya.
Pola Tidur yang Tidak Ideal
Sebelum menjadi content creator full time, Cipa bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta. Jadwal kerja yang padat dan tuntutan lembur membuatnya sulit untuk mendapatkan istirahat yang cukup. “Aku sering lembur sampai jam 11 malam. Setelah pulang, aku tidak langsung tidur, melainkan baru tidur di atas jam 2 atau 3 pagi,” katanya.
Rutinitas ini terjadi hampir setiap hari, sehingga waktu tidurnya terus mundur dari jam ideal. Kurang tidur dalam jangka panjang ternyata berpengaruh besar terhadap metabolisme tubuh, termasuk pengaturan gula darah.
Aktivitas Fisik yang Minim dan Massa Otot yang Rendah
Selain pola makan dan tidur, Cipa juga menyadari bahwa kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor lain yang memperparah kondisinya. Ia mengaku jarang berolahraga secara rutin. Jika pun berolahraga, aktivitas yang dilakukannya hanya sebatas kardio ringan seperti lari atau tenis, dan tidak dilakukan secara konsisten.
“Kalau aku olahraga, cuma seminggu sekali. Jadi, gula yang aku makan tidak punya tempat ‘persembunyian’ yaitu otot. Aku nggak punya massa otot karena nggak pernah angkat beban,” ujarnya.
Minimnya massa otot membuat tubuh tidak memiliki cukup ‘penyimpan’ glukosa, sehingga gula darah lebih mudah melonjak.
Kesimpulan: Pentingnya Gaya Hidup Sehat
Kisah Lilla Syifa menjadi pengingat bahwa gaya hidup sehari-hari memiliki dampak besar terhadap kesehatan jangka panjang. Kebiasaan yang tampak sepele, seperti FOMO makanan viral, kurang tidur, jarang bergerak, dan stres berkepanjangan bisa berujung pada kondisi serius jika dibiarkan terus-menerus.
Pengalaman Cipa juga menjadi pelajaran berharga bahwa menjaga pola hidup sehat bukan hanya tentang penampilan, melainkan investasi terbesar untuk masa depan tubuh kita sendiri.

Tinggalkan Balasan