Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan komitmennya dalam mendukung karya penyandang disabilitas menjelang peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025. Fatma Saifullah Yusuf, Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemensos, mengajak agar produk hasil karya penyandang disabilitas dikurasi, dipasarkan, dan dipromosikan secara berkelanjutan agar mendapat tempat di masyarakat.

Gagasan ini muncul dari pengalaman Fatma yang selama ini berinteraksi dengan penyandang disabilitas di berbagai wilayah Indonesia. Ia melihat banyak karya berkualitas yang belum mendapat perhatian luas, sehingga perlu dorongan agar produk tersebut tidak lagi dilihat sebelah mata.

Persiapan Peringatan Hari Disabilitas Internasional

Dalam audiensi dengan organisasi Precious One di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Fatma menyaksikan langsung hasil karya penyandang disabilitas yang dipamerkan. Precious One merupakan organisasi yang telah lebih dari 20 tahun fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui karya kreatif, edukasi kesadaran, dan kepedulian lingkungan.

Fatma menjelaskan, peringatan HDI pada Desember nanti tidak hanya akan diisi dengan seremoni dan pentas seni, tetapi juga bazar yang menampilkan produk hasil binaan sentra Kemensos, Dinas Sosial, Sekolah Luar Biasa (SLB), yayasan swasta, serta UMKM disabilitas dari seluruh Indonesia.

“Kami ingin menghadirkan produk premium yang siap dipasarkan, bukan sekadar pameran,” ujar Fatma. Untuk itu, Kemensos menggandeng para desainer, perajin batik, perancang tas, sepatu, dan pelukis untuk berkolaborasi dengan penyandang disabilitas.

Jalinan Kerja Sama dengan Perajin Lokal

Fatma mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjalin jejaring dengan perajin di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur misalnya, karya disabilitas diolah menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti batik ciprat yang dikembangkan menjadi tas dan sepatu. Program ini didukung oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya.

Untuk menjaga keberlanjutan pemasaran, DWP Kemensos membuka Galeri Dharma Wanita sebagai etalase produk disabilitas secara permanen. Selain itu, penjualan juga diarahkan melalui kerja sama dengan mal, hotel, dan platform daring. Fatma bahkan tengah menjajaki kemitraan dengan e-commerce agar produk penyandang disabilitas dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Peran Precious One dalam Pemberdayaan Disabilitas

Dalam pertemuan tersebut, Ratna Sutedja, Founder Precious One, memaparkan program yang telah berjalan selama 21 tahun. Precious One memiliki tiga pilar utama, yaitu pemberdayaan ekonomi, edukasi kesadaran disabilitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Iwan Tirta, AirAsia, McDonald’s, hingga Grand Indonesia. Semua karya diproduksi oleh teman-teman tuli, autisme, maupun disabilitas lainnya,” jelas Ratna.

Ratna menegaskan, disabilitas bukan untuk dikasihani, tetapi didukung agar mereka percaya diri dan hasil karyanya diterima masyarakat.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh advisor Precious One Markus Kristianto, Koordinator Dea, Learning Program Precious One Rani, serta pengurus DWP Kemensos dan tim Rehsos serta Dayasos Kementerian Sosial.