Kazakhstan Mengutuk Serangan Ukraina ke Infrastruktur Minyak

Pada hari Minggu (30/11/2025), Kazakhstan mengumumkan protes terhadap serangan yang dilakukan oleh Ukraina terhadap infrastruktur minyak di wilayahnya. Serangan ini disebut sebagai ancaman terhadap stabilitas pasokan energi global dan hubungan bilateral antara dua negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Kazakhstan menegaskan bahwa mereka meminta Ukraina untuk tidak melanjutkan aksi serupa. Mereka juga meminta Kiev agar mematuhi hukum internasional dan menghindari serangan terhadap fasilitas sipil. Pernyataan ini dirujuk dari sumber media lokal, yang menyatakan bahwa ini adalah serangan ketiga yang dilakukan Ukraina terhadap infrastruktur Kazakhstan.

Kazakhstan sebelumnya telah menjaga netralitasnya dalam konflik Rusia-Ukraina sejak Februari 2022. Namun, perselisihan antara kedua negara sempat muncul akibat pernyataan Duta Besar Ukraina di Kazakhstan. Kini, dengan adanya serangan terhadap pipa milik Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Novorossiysk, hubungan bilateral semakin memburuk.

Ukraina Tidak Bermaksud Merusak Fasilitas Kazakhstan

Menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Ukraina, pihaknya tidak bermaksud merusak fasilitas yang digunakan untuk mengirimkan minyak dari Kazakhstan. Kiev lebih fokus pada upaya untuk memutus akses Moskow dalam melancarkan serangan ke Ukraina.

Selain itu, Ukraina mengkritik sikap Kazakhstan yang tidak secara langsung mengutuk serangan Rusia terhadap warga sipil di negaranya. Menurut Kiev, serangan Rusia telah merusak area permukiman, sistem energi, serta Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut serangan Ukraina sebagai tindakan teror. Ia juga mendukung protes resmi yang diajukan oleh Kazakhstan terhadap Ukraina.

Serangan Terhadap Kapal Tanker Rusia

Pada hari yang sama, Ukraina meningkatkan kampanye serangan terhadap fasilitas minyak Rusia. Salah satu aksi yang dilakukan adalah penyerangan terhadap dua kapal tanker yang diketahui mengangkut minyak asal Rusia.

Dilansir dari sumber berita, video menunjukkan bahwa drone laut Ukraina menyerang kapal-kapal tersebut sebelum meledak. Kapal-kapal tersebut bernama Kairos dan Virat, yang berlayar menggunakan bendera Gambia.

Kapal-kapal bayangan ini dikenal sebagai pengangkut barang yang terdampak sanksi, khususnya untuk tujuan pengiriman ke China atau negara Asia lainnya. Mereka beroperasi tanpa kejelasan pemilik dan tidak mengikuti hukum keamanan internasional.

Perang yang Berlanjut

Konflik antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung, dengan setiap pihak terus mengambil langkah-langkah strategis. Beberapa negara seperti Yordania dan beberapa sekutu internasional mencoba memberikan solusi damai, termasuk proposal dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Namun, sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa perang akan segera berakhir. Rusia tetap bersikeras untuk mempertahankan kepentingannya, sementara Ukraina terus berupaya untuk memperkuat posisinya di panggung internasional.