Kondisi Darurat Akibat Putusnya Jembatan Ulee Jalan–Babak Suak
Jembatan Ulee Jalan–Babak Suak, yang menjadi penghubung utama antara belasan desa di kawasan Peusangan Selatan, Bireuen, mengalami kerusakan total akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut. Kejadian ini menyebabkan ribuan warga dari berbagai desa terisolasi tanpa akses darat, memperparah kondisi krisis yang sedang mereka alami.
Kerusakan Berat pada Jembatan
Menurut laporan yang diperoleh, kerusakan jembatan terjadi pada segmen pertama hingga bagian tengah sisi selatan, sehingga hanya tersisa sedikit struktur di bagian utara. Amatan langsung di lokasi menunjukkan bahwa sebagian besar rangka jembatan telah ambruk dan hanyut ke sungai Babak Suak. Sisa rangka baja tampak menumpuk di tepi aliran sungai, menandakan tingkat kerusakan yang sangat parah.
Mulyadi Hasan (60), salah satu warga yang rumahnya hancur dekat jembatan, menjelaskan bahwa rumahnya dihantam air bah pada Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 06.30 WIB, bersamaan dengan robohnya jembatan tersebut. Ia dan tiga anaknya kini mengungsi di meunasah setempat karena tidak memiliki tempat tinggal.
Banjir Menenggelamkan Ratusan Rumah
Menurut Mulyadi, banjir mulai masuk ke pemukiman sekitar pukul 06.00 WIB. Sebanyak 95 kepala keluarga terdampak, dan hingga Jumat (28/11/2025), kondisi rumah masih tertimbun tanah. Banyak sepeda motor ikut tertimbun di dalam rumah. “Luapan banjir membuat rumah saya dan puluhan rumah warga di dekat aliran sungai tenggelam dan tertimbun lumpur setinggi 1–2 meter,” ujarnya.
Jembatan Ulee Jalan–Babak Suak dilaporkan putus sekitar pukul 13.00 WIB, Rabu (26/11/2025). Sebanyak 95 KK mengungsi ke meunasah, sementara air baru mulai surut pada Kamis siang. Warga bertahan dengan bantuan makanan seadanya dari masyarakat sekitar. Harta benda belum dapat diselamatkan dan hampir seluruh ternak warga mati.
Akses Terputus, Warga Mengambil Inisiatif
Jembatan ini merupakan akses utama menuju beberapa desa seperti Darul Aman, Suak, Tanjong, Blang Mane, Blang Leupu, dan Darussalam, Peusangan Selatan. Akibat terputusnya jembatan, ribuan warga di kawasan seberang kini terkurung tanpa akses keluar. Untuk mengatasi krisis makanan, warga berinisiatif membuat rakit dari bambu untuk mengirim makanan ke wilayah terdampak.
“Di sana sudah sangat kritis, tidak ada makanan sama sekali. Akses benar-benar terputus karena jembatan Aweu Geutah Teupin Reudep juga putus,” ujar Mulyadi, yang juga kepala Dusun T Ben Lueng. Ia bersyukur tidak ada korban jiwa. Saat air naik hingga setinggi dada, warga segera mengevakuasi diri.
“Kami potong batang pisang untuk membuat rakit, mendahulukan anak-anak dan orang tua menuju tempat pengungsian,” jelasnya. Awalnya mereka mengungsi ke Gampong Pulo Panyang, lalu berpindah ke meunasah Ulee Jalan. Bantuan makanan yang mereka terima selama ini berasal dari masyarakat sekitar.
Situasi yang Memprihatinkan
Situasi saat ini sangat memprihatinkan, dengan banyak warga yang masih terjebak dalam kondisi sulit. Meskipun bantuan dari masyarakat sekitar telah diberikan, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Diperlukan upaya lebih besar dari pihak berwenang untuk segera melakukan perbaikan jembatan serta memberikan bantuan darurat kepada para pengungsi.

Tinggalkan Balasan