Angkatan Laut Israel mencegat sejumlah kapal dari armada Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Para aktivis di kapal tersebut, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, ditahan dan dipindahkan ke pelabuhan Israel untuk proses deportasi.

Meski para aktivis menyatakan berada di perairan internasional saat penangkapan, Israel beralasan mencegah kapal memasuki zona pertempuran aktif di sekitar Gaza. Sejumlah kapal masih dicegat pada Kamis (2/10) pagi, sementara satu kapal dikabarkan masih berada di kejauhan dan akan dicegat jika mendekat.

Serangan dan Eskalasi Ketegangan di Laut

Armada GSF yang terdiri sekitar 50 kapal dan 300 aktivis dari berbagai negara menghadapi dugaan serangan saat berlayar. Salah satu aktivis, Youssef Samour, mengaku mengalami serangan kimia dari pesawat tanpa awak yang menjatuhkan benda berbahaya di dek kapal Yulara. Ia mengalami iritasi tetapi berhasil membersihkan diri dengan air bersih.

Beberapa kapal melaporkan ledakan di laut selatan Pulau Kreta, Yunani, dan komunikasi sempat terputus. GSF menuding Israel melakukan “eskalasi berbahaya” terhadap armada bantuan kemanusiaan ini. Militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan serangan tersebut.

Tujuan Global Sumud Flotilla

Global Sumud Flotilla (GSF) adalah koalisi kapal internasional yang bertujuan memecah blokade laut Israel terhadap Gaza dan membawa bantuan kemanusiaan. Armada ini berlayar dari beberapa pelabuhan di Eropa dan Afrika Utara, termasuk Spanyol, Italia, Yunani, dan Tunisia.

GSF menyatakan misi mereka untuk membuka koridor kemanusiaan dan menghentikan apa yang mereka sebut sebagai genosida terhadap rakyat Palestina. Armada ini merupakan upaya terbesar sejak misi serupa pertama dimulai tahun 2008.

Respons Israel dan Upaya Pencegahan

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan armada ini bertujuan provokasi dan membantu Hamas, bukan misi kemanusiaan. Mereka menegaskan tidak akan mengizinkan kapal memasuki zona pertempuran aktif di Gaza.

Langkah luar biasa diambil oleh Italia dan Spanyol dengan mengirim kapal angkatan laut untuk mengawal armada bantuan, meskipun mereka memastikan tidak akan mendekati wilayah 278 km dari perbatasan Israel-Gaza.

Reaksi Aktivis dan Peserta Armada

Aktivis seperti Greta Thunberg menyebut serangan terhadap armada sebagai taktik intimidasi yang tidak akan menghentikan misi kemanusiaan mereka. Armada ini juga melibatkan tokoh internasional seperti cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, aktris Susan Sarandon, dan anggota parlemen Eropa.

GSF mengaku memiliki informasi intelijen mengenai upaya Israel untuk menghentikan armada dalam 48 jam ke depan dan mengaku semua peserta menghadapi ancaman hukum berdasarkan undang-undang antiterorisme.

Sejarah dan Upaya Sebelumnya

Sejak 2008, beberapa armada serupa telah mencoba menembus blokade laut Israel menuju Gaza, namun kebanyakan gagal. Insiden paling dikenal terjadi pada 2010 saat pasukan Israel mendarat di atas kapal Mavi Marmara milik Turki, menewaskan 10 aktivis Turki dalam bentrokan bersenjata.

GSF merupakan gabungan berbagai kelompok internasional yang menyatukan armada dari Freedom Flotilla Coalition, Gaza Free Movement, dan kelompok lainnya dari Afrika Utara dan Asia Tenggara.