Alat deteksi kesegaran bahan pangan yang dikembangkan oleh Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Suryani Dyah Astuti, mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Inovasi bernama AE-Nose atau Aenose ini lahir dari ketertarikan Suryani terhadap Electronic Nose (E-nose) yang dibuat oleh peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan digunakan untuk deteksi dini infeksi virus corona.

“Kami tertarik untuk menerapkan Artificial Nose yang meniru cara kerja hidung manusia, agar bisa digunakan dalam mendeteksi kualitas bahan pangan,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Ahad, 24 Desember 2025.

Dari riset awal, termasuk dengan penemu E-Nose, Kuwat Triyana, Suryani bersama mahasiswa pascasarjana Unair mengembangkan Aenose yang dilengkapi Taguchi Gas Sensor (TGS) maupun sensor MQ—sensor gas yang bekerja berdasarkan prinsip perubahan resistansi akibat paparan gas tertentu. Sensor ini membantu dalam mendeteksi proses pengawetan bahan pangan.

Alat ini mampu mengklasifikasikan tingkat kesegaran daging secara cepat. Inovasi ini juga mudah dibawa atau portable, serta tidak merusak bahan (non-destructive). “Sensor ini mampu mengklasifikasikan daging yang tidak segar maupun daging yang segar dengan akurasi sangat tinggi, yaitu 90 persen,” jelas dia.

Cara kerja perangkat ini mirip dengan indra penciuman manusia yang bersifat subjektif dan bisa dipengaruhi oleh kondisi kesehatan. Aenose menggunakan sistem sensor larik (sensor array) yang mendeteksi berbagai jenis bau hasil metabolisme daging atau kontaminasi bakteri. Bau ini kemudian diubah menjadi sinyal listrik, yang selanjutnya dianalisis oleh AI untuk kebutuhan deteksi dan klasifikasi status kesegaran daging tersebut.

Masih Butuh Impor Komponen

Suryani mengakui bahwa keterbatasan ketersediaan komponen masih menjadi tantangan utama. Tim Unair masih harus mengimpor perangkat elektronik dan sensor untuk merakit Aenose. “Kami harus memutar otak untuk dapat mengganti dengan komponen lain yang memiliki kualitas yang lebih baik,” ujar dia.

Meski begitu, dia memastikan upaya hilirisasi terus dilakukan. Pengembangan Aenose kini dimitrakan dengan PT Sarandi Karya Nugraha yang bergerak di bidang alat kesehatan.

Selain Aenose, Suryani menyatakan sedang mengembangkan inovasi lain, seperti Skinolaser untuk percepatan penyembuhan luka pasca operasi yang kini dalam tahap uji klinik. Ada juga inovasi laser perikanan untuk budidaya ikan.

Dia menekankan pentingnya penyusunan roadmap penelitian agar bisa menyerap masalah nyata di sekitar kita. “Kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan industri juga sangat berharga untuk membuka perspektif baru dan mempercepat proses inovasi,” kata Suryani.

Proses Pengembangan Aenose

  • Alat ini dirancang untuk mendeteksi bau dan kualitas bahan pangan secara efisien
  • Menggunakan sensor TGS dan MQ yang mampu mendeteksi perubahan resistansi akibat paparan gas
  • Hasil analisis kemudian dianalisis oleh AI untuk menentukan tingkat kesegaran bahan pangan

Tantangan dan Solusi

  • Masih ada ketergantungan pada komponen impor
  • Tim Unair terus mencari alternatif komponen lokal dengan kualitas setara
  • Kolaborasi dengan industri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas produk

Inovasi Lain yang Dikembangkan

  • Skinolaser: Alat untuk mempercepat penyembuhan luka pasca operasi
  • Laser perikanan: Teknologi untuk mendukung budidaya ikan secara efektif
  • Penelitian terus dilakukan untuk menjawab tantangan nyata di masyarakat