Pangan menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga di berbagai pasar tradisional menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kenaikan ini terjadi pada beberapa jenis bahan pokok seperti beras premium, cabai, bawang, hingga minyak goreng Minyakita.

Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan, kenaikan harga pangan kali ini mencakup berbagai komoditas penting. Ia menjelaskan bahwa per 3 Desember 2025, harga beras medium masih relatif stabil, namun beras premium tetap berada di level tinggi sekitar Rp15.500–Rp15.600 per kilogram.

Komoditas cabai juga menjadi salah satu yang mengalami lonjakan signifikan. Harga cabai merah keriting mencapai Rp65.000 per kilogram, cabai rawit dijual dengan harga Rp69.000 per kilogram, sedangkan cabai merah TW dibanderol seharga Rp68.000 per kilogram.

Reynaldi menyatakan bahwa lonjakan harga ini dipengaruhi oleh momentum Nataru yang semakin dekat. “Cabai-cabai ini mengalami lonjakan, tentu mengingat beberapa pekan lagi kita akan memasuki Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

Selain cabai, bawang putih juga mulai naik ke kisaran Rp40.000 per kilogram, sedangkan bawang merah mencapai Rp49.000 per kilogram. Untuk harga ayam, masih stagnan di kisaran Rp40.000 per kilogram, sementara telur berada pada rentang Rp30.500–Rp31.000 per kilogram. Gula pasir pun berada di kisaran Rp18.000 per kilogram.

Namun, yang menjadi sorotan utama adalah harga minyak goreng Minyakita yang masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Adapun minyak goreng curah juga mengalami kenaikan ke level Rp19.000 per liter.

“Minyakita ini yang menurut kami menjadi sorotan karena harganya masih di atas HET yang seharusnya Rp15.700 per liter sekarang di Rp17.850 per liter,” ujar Reynaldi.

Ia menilai belum turunnya harga minyak goreng Minyakita mengindikasikan adanya masalah dalam rantai tata niaga, baik dari sisi pasokan maupun regulasi. Ikappi mempertanyakan mengapa harga Minyakita masih di atas HET, padahal pemerintah telah merevisi aturan terkait. Menurutnya, ketersediaan minyak goreng nasional yang melimpah seharusnya membuat harga lebih stabil.

Di sisi lain, gangguan logistik di Sumatra menjadi tantangan tambahan dalam distribusi komoditas pangan. Ikappi tengah memetakan sejumlah kabupaten/kota yang terdampak kerusakan infrastruktur seperti putusnya jembatan, sehingga jalur darat tidak dapat dilalui.

Reynaldi menjelaskan bahwa kondisi ini menghambat pasokan ke wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kecuali untuk makanan jadi yang bisa dikirim melalui jalur udara. Imbasnya, distribusi kebutuhan pokok, terutama komoditas pangan segar, masih sulit menjangkau sejumlah pasar di daerah tersebut.