Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya terhadap oknum yang dianggap merusak alam. Aksi tersebut mendadak menjadi sorotan publik dan membuatnya membandingkan situasi saat ini dengan masa penjajahan Belanda.

Sebelum menyampaikan pernyataannya, Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak ke lahan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Kabupaten Bandung. Di lokasi tersebut, ia melihat banyak lahan yang kosong dan gundul. Hal ini langsung menimbulkan pertanyaan dari Gubernur, sehingga ia meminta penjelasan kepada Bupati Bandung, Dadang Supriatna.

Bupati Bandung menjelaskan bahwa pengosongan lahan itu dilakukan oleh PTPN sendiri. Ia menyatakan bahwa lahan yang dimiliki PTPN legal, tetapi tindakan pembongkaran tidak sah. “Lahan milik PTPN legal, tapi yang membongkarnya ilegal,” ujar Dadang Supriatna.

Dedi Mulyadi menganggap bahwa pengosongan lahan tersebut bisa menjadi penyebab banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia juga menyatakan bahwa tindakan PTPN dalam menyewakan tanah membuat warga kewalahan. “Ini kan kelakuan PTPN juga awalnya, setelah diserang, rakyat nangis-nangis gak ada yang bantu,” katanya.

Menurut Dedi, praktik sewa lahan yang dilakukan PTPN adalah trik atau tindakan busuk dari oknum nakal yang merusak lingkungan. “Pokoknya kelakuan busuk tinggalin yang merusak alam,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa siapa pun yang merusak alam, baik pejabat maupun rakyat, harus diberi konsekuensi. “Pokokna didoakeun ku aing nu ngarusak alam Jawa Barat, kaluhur teu sirungan ka handap teu akaran.”

Setelah menyampaikan pernyataannya, Dedi Mulyadi juga menyentil Direktur Utama PTPN yang dinilai tidak berani memberikan sanksi kepada anak buahnya yang bersalah. Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan masa penjajahan Belanda. Menurut Gubernur, Belanda mampu membangun Gedung Sate melalui hasil perkebunan mereka. Namun, bangsa Indonesia justru merusak tanah-tanahnya sendiri.

“Kan kita nih dikasih amanah, jangan kalah sama Belanda mencintai negara,” ujarnya. Ia menambahkan, “Belanda mengurus PTPN bisa membangun Gedung Sate, bangsa kita menghabiskan tanah-tanahnya.”