Tantangan dalam Impor Minyak Mentah dari Rusia

Rencana pemerintah Indonesia untuk mengimpor minyak mentah (crude) dari Rusia mendapat perhatian khusus. Meski ada potensi keberhasilan, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyampaikan bahwa hambatan utama terletak pada eksekusi teknis dan isu mata uang yang digunakan.

Proses Impor yang Masih Dalam Tahap Penjajakan

Sebagai bagian dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin, rencana impor crude dari Rusia berpotensi dimulai dalam bulan ini. Pemerintah menilai langkah ini diperlukan karena situasi geopolitik yang tidak stabil. Diversifikasi pasokan energi menjadi salah satu alasan utama, agar Indonesia tidak hanya bergantung pada satu negara saja.

Syafruddin menegaskan bahwa secara politik, rencana ini sangat memungkinkan. Namun, secara operasional, hal ini belum tentu mudah. Menurutnya, proses pengiriman masih membutuhkan penyelesaian kontrak jangka panjang dan kesepakatan detail antara kedua pihak.

Empat Hambatan Utama dalam Eksekusi Impor

Menurut Syafruddin, terdapat empat hambatan utama dalam eksekusi impor crude dari Rusia:

  • Kontrak: Volume, jenis komoditas, formula harga, jadwal pengiriman, dan tanggung jawab risiko harus disepakati rinci.
  • Logistik: Rute pelayaran panjang, ketersediaan tanker, asuransi, slot bongkar, dan kesiapan fasilitas penerima.
  • Kondisi Pasar: Pasar regional sedang ketat dan mahal, dengan premi tinggi pada mogas, jet fuel, dan gasoil. Hal ini membuat pengaturan volume dan waktu pengiriman lebih kompleks.
  • Settlement: Pembahasan tentang sistem pembayaran resmi antara kedua negara sangat penting. Kehadiran gubernur bank sentral Rusia dalam pertemuan Kremlin menunjukkan bahwa masalah ini sudah mulai dibahas.

Isu Mata Uang yang Menjadi Fokus Utama

Selain empat hambatan tersebut, isu mata uang menjadi fokus utama dalam pembahasan impor. Syafruddin menjelaskan bahwa opsi pembayaran resmi yang disepakati kedua negara, baik melalui mata uang nasional, mata uang ketiga, atau settlement bilateral, menjadi prioritas utama.

Ia juga menyebut bahwa meskipun kripto bisa digunakan sebagai alternatif, praktiknya masih lemah untuk transaksi besar antarnegara. Volatilitas tinggi, ketidakpastian regulasi, serta risiko kepatuhan dan audit menjadi alasan utama mengapa kripto bukan opsi utama.

Hambatan dari Faktor Politik AS

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menyatakan bahwa faktor politik Amerika Serikat (AS) juga menjadi hambatan. Meskipun ada kabar pelonggaran sanksi terhadap Rusia, belum ada kepastian apakah sanksi tersebut bersifat permanen atau sementara.

Hadi menekankan perlunya lobby tingkat tinggi antara AS dan Indonesia. Pemerintah harus menjelaskan kondisi defisit energi yang dialami Indonesia dan kebutuhan penanganan segera. Ia menilai bahwa impor crude dari Rusia tetap memungkinkan, asalkan ada kesepakatan antara kedua pihak terkait volume, harga, spesifikasi, dan lokasi pengiriman.

Biaya dan Waktu Pengiriman

Jika impor dilakukan melalui pelabuhan di Eropa, waktu pengiriman diperkirakan mencapai 50-60 hari. Sementara itu, jika pengiriman dilakukan dari Asia, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 15 hari. Meski lebih cepat, biaya pengiriman dari Rusia lebih mahal dibandingkan dari Timur Tengah.

Namun, Hadi menilai harga minyak Rusia jauh lebih rendah dibandingkan harga minyak acuan Brent, yaitu sekitar US$ 10-13 per barel. Secara komersial, hal ini sangat menarik. Pembayaran kemungkinan bisa dilakukan menggunakan mata uang Rubel atau Yuan Cina, jika tidak bisa menggunakan dollar.