Peneliti Senior Citra Institute Menanggapi Isu Kudeta terhadap Presiden
Seorang peneliti senior dari Citra Institute, Efriza, menyoroti pentingnya menghadapi isu yang menyebutkan adanya upaya kudeta terhadap presiden. Ia menekankan bahwa pernyataan tersebut harus ditangani dengan sangat hati-hati dan tidak boleh dianggap remeh.
Menurut Efriza, pernyataan Hashim Djojohadikusumo bisa dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, sebagai peringatan dini terhadap potensi ancaman politik. Kedua, sebagai strategi penguatan internal dalam memperkuat koalisi pendukung presiden.
“Pernyataan Hashim ini perlu dilihat secara hati-hati. Jika dianggap sebagai alarm politik, silakan saja. Sebab, negara punya lembaga intelijen, sehingga kemungkinan benarnya informasi tersebut tetap cukup rasional,” ujar Efriza kepada CARIBERITA.ID.
Namun, ia juga menilai ada kemungkinan narasi ini muncul sebagai upaya untuk memperkuat kekuasaan. Tujuannya adalah agar seluruh elemen pendukung Presiden Prabowo tetap kompak dan waspada terhadap segala bentuk gangguan politik.
“Pernyataan Hashim juga dapat dibaca sebagai upaya konsolidasi kekuasaan, agar kekuatan-kekuatan pendukung Presiden Prabowo tetap kompak,” tambahnya.
Di sisi lain, Efriza menilai bahwa tanpa transparansi dan bukti yang jelas, pernyataan seperti ini justru berpotensi menimbulkan kegelisahan publik. Ia menegaskan bahwa jika dibiarkan tanpa klarifikasi yang tepat, hanya akan menjadi spekulasi liar yang tidak produktif bagi stabilitas nasional.
“Jika dibiarkan tanpa klarifikasi terukur, hanya akan menjadi spekulasi liar yang tidak produktif bagi stabilitas nasional,” katanya.
Isu kudeta ini seolah menjadi kelanjutan dari dinamika politik yang memanas setelah pernyataan Saiful Mujani viral. Beberapa pihak menganggap kritik Mujani bernada tendensius dan seolah memiliki muatan untuk menggoyang posisi Presiden Prabowo.
Efriza menjelaskan bahwa Presiden Prabowo sendiri dalam berbagai kesempatan telah berulang kali mengingatkan pihak-pihak yang mencoba merongrong pemerintah. Prabowo meminta semua pihak untuk bersabar dan menunggu hingga Pemilu berikutnya jika ingin melakukan perubahan kepemimpinan secara konstitusional.
Pemerintah kini dituntut untuk memberikan penjelasan yang menyejukkan agar stabilitas politik tetap terjaga. Hal ini penting agar isu-isu kudeta semacam ini tidak menimbulkan kegaduhan yang justru merugikan masyarakat luas.
“Kehati-hatian adalah kunci. Jangan sampai narasi-narasi politik seperti ini malah mengganggu fokus pemerintah dalam bekerja untuk rakyat,” pungkas Efriza.

Tinggalkan Balasan