Ruang Hidup Malam di Bawah Kolong Tol Jalan Andi Pangerang Pettarani

Di bawah kolong tol Jl Andi Pangerang Pettarani, Makassar kini menjadi ruang hidup malam yang ramai. Tempat ini tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya anak muda, tetapi juga menjadi pusat aktivitas penjual kopi dan komunitas jalanan. Fenomena unik ini menunjukkan bagaimana ruang publik bisa menjadi tempat bagi berbagai kegiatan sosial dan ekonomi.

Aktivitas di Bawah Kolong Tol

Sepanjang jalan Andi Pangerang Pettarani, terdapat fenomena yang menarik perhatian. Di bawah kolong tol, terlihat aktivitas yang mirip dengan kota-kota besar lainnya. Anak-anak muda sering kali berkumpul di sini untuk bersantai, menghabiskan waktu bersama teman-teman, atau sekadar menikmati suasana malam.

Pernah suatu malam, saya memutuskan untuk duduk sejenak di sini. Saya menggunakan sepeda motor dan memarkirnya di trotoar. Saat itu, banyak kendaraan pengunjung yang parkir di sepanjang jalan. Tidak hanya itu, di bawah kolong tol juga terdapat lebih dari sepuluh penjual kopi yang menjual produk mereka dengan harga terjangkau, mulai dari delapan ribu rupiah.

Penjual kopi ini menggunakan sepeda motor listrik yang sedang tren saat ini. Mereka menawarkan kopi dengan harga murah, sehingga banyak anak muda yang memilih tempat ini sebagai alternatif untuk bersantai. Selain lokasi strategis, suasana yang ramai dan asik juga membuat kolong tol ini menjadi tempat favorit.

Suasana Malam Minggu

Sambil menikmati kopi, saya mengamati keadaan sekitar. Terdapat kebisingan, polusi udara, serta percakapan-percakapan ringan dari pengunjung. Sesekali, gerombolan sepeda motor melewati jalan dengan suara knalpot yang keras, menandakan adanya balapan liar yang sering terjadi di malam hari.

Anak muda yang berkumpul di sini memiliki tujuan yang beragam. Ada yang sekadar duduk sendiri, ada yang datang bersama pasangan untuk kencan, dan ada pula yang ingin menikmati malam dengan suasana yang nyaman. Anak-anak jalanan juga memilih kolong tol ini sebagai basecamp mereka, sementara para penggemar skateboard mencari tempat untuk mengasah skill mereka.

Corat-Coret sebagai Simbol Perlawanan

Meski banyak aktivitas yang terjadi di sini, saya tidak melihat adanya opsi bagi para pegiat literasi untuk mempromosikan bacaan buku. Namun, hal yang menarik adalah corat-coret dan lukisan di dinding penyangga tol. Tulisan-tulisan dan gambar-gambar ini mencerminkan kebebasan berekspresi dan kritik terhadap sistem yang ada.

Salah satu kata yang menarik perhatian saya adalah “Papua” yang ditulis dengan huruf besar. Ini bisa menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Dalam pandangan Marxis, seni merupakan bagian dari perjuangan ideologis dan politik. Antonio Gramsci pun memandang seni sebagai alat untuk menantang struktur kekuasaan dan mitos budaya.

Masalah Ruang Terbuka Hijau di Makassar

Makassar, sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, seharusnya melakukan perbaikan yang signifikan. Sayangnya, kondisi kota ini masih jauh dari harapan. Makassar pernah digadang-gadang sebagai kota dunia, tetapi standar dan kelayakannya masih jauh dari kriteria yang ditetapkan.

Masalah utama yang dihadapi kota ini antara lain kurangnya sistem lalu lintas yang jelas, yang menyebabkan kemacetan setiap hari. Polusi udara yang tinggi juga disebabkan oleh tidak adanya sistem pengangkutan sampah yang efektif. Mobil angkutan sampah sering kali beroperasi saat lalu lintas padat, sehingga semakin memperparah kondisi lingkungan.

Selain itu, kekerasan kelompok dan tingkat kriminalitas yang tinggi juga menjadi masalah serius. Tidak adanya taman kota yang representatif membuat kota ini kekurangan ruang terbuka hijau. Padahal, prasyarat kota dunia harus memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 30 persen. Sayangnya, Makassar belum memenuhi syarat ini.

Perlu Perhatian Lebih dari Pemerintah

Fenomena corat coret di bawah kolong tol ini bukan hanya sebagai simbol perlawanan, tetapi juga menunjukkan bahwa anak muda kota ini membutuhkan ruang ekspresi yang representatif. Ruang ini harus dapat diakses oleh semua kalangan secara adil dan setara.

Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap tata ruang dan lingkungan telah menyebabkan banyak masalah. Taman kota seperti Taman Maccini Sombala dan Taman Macan semakin menyusut akibat reklamasi dan pembangunan CPI. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah belum memberikan perhatian yang cukup terhadap pengelolaan ruang publik.

Dengan demikian, diperlukan langkah-langkah lebih serius dari pemerintah dalam menciptakan ruang ekspresi yang layak dan aman bagi seluruh masyarakat. Hal ini penting untuk mencegah tindakan kriminal yang sering terjadi akibat ketidakpuasan dan kegelisahan anak muda.