China tengah mengembangkan pusat data bawah laut yang akan ditempatkan di perairan lepas pantai Shanghai. Inisiatif ini bertujuan mengatasi tantangan besar dalam operasional pusat data, khususnya konsumsi energi untuk sistem pendinginan di era kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan teknologi maritim asal China, Highlander, memimpin proyek ini dengan menguji coba kapsul server yang saat ini sedang diselesaikan di galangan kapal di Nantong. Rencananya, fasilitas ini akan mulai diselamkan pada pertengahan Oktober 2025.
Pendinginan Pasif Jadi Kunci Hemat Energi
Salah satu keunggulan utama pusat data bawah laut adalah penggunaan pendinginan pasif. Arus laut menjaga suhu server tetap rendah tanpa perlu kipas besar atau sistem pendingin air yang boros energi.
Menurut Yang Ye, Wakil Presiden Highlander, fasilitas ini dapat menghemat hingga 90 persen konsumsi energi untuk pendinginan dibanding pusat data konvensional di darat. “Fasilitas bawah laut bisa menghemat hampir 90% konsumsi energi untuk pendinginan,” ujarnya.
Teknologi Lama dengan Pendekatan Komersial Baru
Meski bukan konsep baru, pusat data bawah laut mulai mendapatkan perhatian serius setelah Microsoft mengujinya di lepas pantai Skotlandia pada 2018. Proyek Highlander menjadi salah satu langkah komersialisasi paling nyata yang ada saat ini.
Namun, teknologi ini masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dan lingkungan, seperti tekanan air, korosi laut, perawatan bawah permukaan, serta koneksi optik laut dalam yang harus dioptimalkan.
Selain itu, meskipun pendinginan bisa hemat, kebutuhan akan pasokan listrik stabil, manajemen trafik data, dan keamanan fisik di lingkungan bawah laut tetap menjadi perhatian utama.

Tinggalkan Balasan