Penilaian Profesor Lili Romli terhadap Buku “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital”
Buku yang berjudul “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital” karya Boni Hargens dinilai oleh Profesor Lili Romli sebagai referensi yang komprehensif untuk memahami politik, baik secara teori maupun praktik modern. Buku ini disebut relevan bagi pelajar, akademisi, dan praktisi karena mengulas sejarah, sistem politik, serta pengaruh teknologi digital dalam demokrasi.
Dalam acara peluncuran buku tersebut, hadir juga narasumber lain seperti Syafuan Rozi dari BRIN dan Karyono Wibowo, pengamat politik. Profesor Lili Romli menyampaikan bahwa buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh mahasiswa S1 hingga S3, tetapi juga oleh para pelaku politik di dalam maupun luar institusi demokrasi.
Pemahaman yang Komprehensif
Menurut Prof Lili Romli, membaca buku ini seperti melalui beberapa mata kuliah karena isinya mencakup berbagai aspek ilmu politik, mulai dari sejarah, pendekatan ilmu politik, sistem politik hingga pengaruh teknologi. Ia menilai bahwa buku ini memberikan perspektif yang luas dan mendalam tentang politik.
Selain itu, buku ini juga membantah anggapan negatif terhadap politik, yang sering dianggap buruk atau penuh tipu daya. Dengan merujuk pada filsuf-filsuf seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles, serta para ilmuwan politik modern, Boni Hargens menunjukkan bahwa politik adalah kebajikan yang memiliki peran penting dalam masyarakat.
Pengaruh Teknologi Digital dan Intelijen
Buku ini juga membahas bagaimana teknologi digital memengaruhi politik dan demokrasi. Selain itu, Boni Hargens menjelaskan hubungan antara ilmu politik dengan intelijen, terutama dalam konteks kepentingan nasional. Menurut Prof Lili Romli, hal ini menjadi sesuatu yang sangat relevan dengan perkembangan saat ini.
Ia juga menyebutkan bahwa meskipun buku ini masih memiliki kekurangan, namun kekurangan tersebut bukanlah kelemahan, melainkan sesuatu yang bisa disempurnakan. Ia bahkan mendorong Boni Hargens untuk segera menerjemahkan disertasinya yang berjudul “Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia” ke dalam bahasa Indonesia.
Pandangan dari Pengamat Politik
Karyono Wibowo, pengamat publik dan Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute, menyampaikan apresiasi senada terhadap buku ini. Menurutnya, buku ini merupakan paket lengkap yang mencakup berbagai pandangan filosofis tentang politik, teori politik, serta mazhab politik Boni Hargens, yaitu politik kenegaraan.
Ia menyoroti dua hal utama dalam buku ini: pertama, bagaimana digitalisasi memengaruhi politik dan demokrasi; kedua, bagaimana intelijen dapat bekerja sama dengan demokrasi. Meski karakteristik keduanya berbeda, Karyono menilai bahwa keduanya bisa berjalan beriringan, terutama dalam konteks keamanan negara.
Namun, ia juga menyoroti pertanyaan terbuka tentang apakah intelijen bisa sepenuhnya demokratis. Contoh kasus seperti aktivis Kontras Andrie Yunus menunjukkan bahwa ada risiko jika intelijen digunakan untuk tujuan yang tidak sesuai.
Rekomendasi untuk Stakeholder Politik
Syafuan Rozi, peneliti BRIN, mengajak semua stakeholder, terutama para aktor politik, untuk membaca buku ini agar dapat memperkaya perspektif dan ilmu politik. Ia menilai bahwa buku ini dapat menjadi dasar yang kuat dalam perdebatan dan pengambilan kebijakan, terutama dalam konteks kebaikan bersama, bangsa, dan negara.
Struktur dan Isi Buku
Buku “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital” terdiri dari 582 halaman yang dibagi dalam 10 bab. Bab-bab ini mencakup topik seperti teori dan pendekatan ilmu politik, kekuasaan dan negara, sistem politik, ideologi politik, partai politik dan pemilu, pengaruh teknologi digital, serta intelijen dan demokrasi di era digital.
Buku ini telah dicetak dua kali, yakni pada Oktober 2025 dan Februari 2026. Sementara itu, Boni Hargens sendiri adalah intelektual muda kelahiran Manggarai, Flores, NTT. Ia pernah mengenyam pendidikan filsafat di STF Driyarkara sebelum menempuh studi ilmu politik di Universitas Indonesia.
Boni juga mengikuti perkuliahan pascasarjana di Program Studi Asia Tenggara di Universitas Humboldt di Berlin dengan beasiswa dari KAAD. Ia kemudian meraih gelar doktor filsafat di bidang Kebijakan Publik dan Administrasi dari Universitas Walden, Minneapolis, Amerika Serikat.
Disertasi doktoralnya, yang berjudul “Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia,” terbit menjadi sebuah buku di Pennsylvania, Amerika Serikat tahun 2020 dan masih tersedia di situs dunia seperti Amazon.

Tinggalkan Balasan