Kejadian Mengerikan: Buaya Menyerang Remaja di Sungai Pulau Ubi

Di kawasan Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), sebuah kejadian mengerikan terjadi pada Jumat (12/12) sore. Seorang remaja bernama Surya (15 tahun) menjadi korban serangan buaya saat sedang mencari ikan di sungai Pulau Ubi. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat dan pihak berwenang.

Surya, yang mengenakan kaos biru lengan pendek dan celana hitam pendek, berhasil selamat dari gigitan buaya. Namun, ia harus menjalani perawatan di RSUD Boejasin Pelaihari akibat luka-luka yang dialaminya. Luka tersebut terdapat di bagian kaki kanannya, mulai dari atas mata kaki hingga paha. Darah yang mengering di beberapa titik menunjukkan tingkat cedera yang cukup parah.

Kepala Desa Batakan, H Patnur, menyampaikan bahwa korban tinggal di sekitar jalan arah ke Pulau Ubi. Pada hari kejadian, sekitar pukul 16.00 Wita, Surya melakukan aktivitas mencari ikan menggunakan alat rempa atau rengge. Meski tidak diketahui secara pasti momen serangan buaya, kejadian ini menunjukkan risiko yang tersembunyi di balik keindahan alam sungai tersebut.

Serangan buaya di wilayah Batakan bukanlah yang pertama. Sejak 2024, telah terjadi beberapa insiden serupa di sungai Batakan yang menjadi batas dengan Desa Tanjungdewa. Di samping itu, pernah juga terjadi serangan di pesisir setempat.

Ahmad Bahtiar, Kepala Desa Kandanganlama, mengungkapkan bahwa keberadaan buaya di sungai Pulau Ubi sudah menjadi hal biasa. Ia menyebutkan bahwa sungai tersebut memang memiliki populasi buaya yang cukup besar. Namun, ia mengaku kaget ketika mendengar kabar bahwa buaya di sungai tersebut menyerang manusia.

Menurut Bahtiar, sungai Pulau Ubi memiliki lebar sekitar 5-7 meter dan kedalaman 3-4 meter. Selama ini, buaya di sungai tersebut tidak pernah menyerang manusia. Oleh karena itu, kejadian kali ini mengejutkan banyak pihak.

Surya dan keluarganya bukan merupakan warga asli Kandanganlama. Ayah korban, Fadli (36 tahun), sebelumnya merantau dari Kecamatan Aluhaluh, Kabupaten Banjar, ke desa ini sekitar lima tahun lalu. Setahun terakhir, keluarga tersebut tinggal di pondok yang terletak di jalur arah menuju Pulau Ubi.

Pondok tersebut milik orang lain, dan mereka hanya meminjamnya. Lokasi pondok tersebut cukup jauh dari pusat permukiman Kandanganlama. Di dalam pondok tersebut juga tinggal anggota keluarga lainnya, seperti kakak Surya yang bernama Sri atau dikenal dengan nama Bunga (19 tahun), Alfi (suami Bunga), dan seorang anak. Mereka adalah keluarga yang kurang mampu dan sering melakukan pekerjaan sambilan, termasuk mencari ikan di sungai setempat.

Untuk membantu keluarga tersebut, pemerintah desa kemudian memindahkan status domisili Fadli dari warga Aluhaluh menjadi warga Kandanganlama. Tujuan dari perubahan ini adalah agar keluarga tersebut dapat diusulkan mendapatkan bantuan sosial untuk warga kurang mampu atau berpenghasilan rendah.