Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur mengecam keras tindakan Israel yang mencegat armada Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Menurutnya, tindakan itu merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional.

“Kita mengecam keras tindakan Israel, penghadangan terhadap Global Sumud Flotilla adalah pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional,” ujar Gus Fahrur kepada wartawan, Sabtu (4/10/2025).

Gus Fahrur menegaskan bahwa misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla bertujuan semata-mata untuk menyalurkan bantuan kepada warga sipil yang terdampak krisis di Gaza.

Peran Global Sumud Flotilla dalam Bantuan Kemanusiaan

Misi Global Sumud Flotilla menjadi bukti nyata bahwa dunia internasional tidak tinggal diam terhadap penderitaan warga Palestina, khususnya di Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan.

“Kehadiran kapal kemanusiaan itu sangat dibutuhkan untuk distribusi logistik, sekaligus juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan blokade Israel yang mengekang hak hidup jutaan orang Palestina,” tambah Gus Fahrur.

Kronologi Penghadangan Kapal Bantuan

Global Sumud Flotilla yang terdiri atas lebih dari 40 kapal membawa politisi dan aktivis dari berbagai negara, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg. Armada ini berangkat dari Spanyol pada bulan lalu dengan tujuan menembus blokade Israel di Jalur Gaza yang dilanda kelaparan.

Pada Rabu (1/10), Pasukan Angkatan Laut Israel mulai mencegat kapal-kapal tersebut dan menahan orang-orang yang ada di dalamnya. Seorang pejabat Israel menyatakan lebih dari 400 orang dicegah mencapai pesisir Gaza.

Dalam pernyataan terpisah yang dikutip Anadolu Agency, Global Sumud Flotilla mengonfirmasi bahwa lebih dari 450 aktivis dari 47 negara telah dipindahkan ke pelabuhan Ashdod di Israel bagian selatan setelah sebagian besar kapal dicegat.

Para aktivis tersebut berasal dari berbagai negara, antara lain Spanyol, Italia, Brasil, Turki, Yunani, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Inggris, dan Prancis.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan para aktivis yang ditahan akan dideportasi ke Eropa setelah tiba di pelabuhan Ashdod.

Marinette menjadi kapal terakhir yang dicegat, meski sebelumnya bertekad melanjutkan perjalanan ke Gaza. Israel menyebut kapal itu berlayar jauh dari pasukan mereka dan berjanji mencegahnya mendekati Jalur Gaza.