Program Kampung Bersih Rentenir (KBR) Berhasil Kurangi Ketergantungan Masyarakat Bandung
Program Kampung Bersih Rentenir (KBR) yang digelar oleh Pemerintah Kota Bandung telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat. Melalui inisiatif ini, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap rentenir diklaim sudah berkurang secara signifikan. Hal ini tidak terlepas dari upaya penguatan literasi keuangan, akses ke lembaga keuangan resmi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pada sesi bincang-bincang di Festival KBR Bandung Utama di Ciumbuleuit, Kamis 11 Desember 2025, berbagai informasi penting tentang program ini disampaikan. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (DiskopUKM) Kota Bandung, yang telah menjalankan program KBR sejak tahun 2023. Hadir juga perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara tersebut.
Kepala Bidang Pengawasan Koperasi Diskopukm Kota Bandung, Tris Avianti, menyampaikan bahwa program KBR yang memasuki tahun ketiga telah terbentuk di 14 kecamatan. Di antaranya, delapan Kampung Bebas Rentenir baru saja dibentuk pada tahun 2025. Ia menuturkan bahwa dari total 30 kecamatan di Kota Bandung, hanya 14 yang telah memiliki KBR. Tahun depan, pihaknya berencana untuk menambahkan lagi 7 kecamatan, dengan target akhir 2027 seluruh 30 kecamatan memiliki KBR.
“Tahun 2025 merupakan akhir dari program di 14 KBR yang ada. Oleh karena itu, kami menggelar festival untuk menampilkan produk-produk hasil dari program KBR,” ujar Tris.
Setiap Kampung Bebas Rentenir memiliki hingga 40 anggota yang menjadi agen perubahan. Para anggota ini bertugas untuk menyosialisasikan literasi keuangan, akses ke lembaga keuangan resmi, serta pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Data yang dirilis oleh Diskopukm mencatat total 447 anggota aktif di 14 KBR, yang menghasilkan 32 produk olahan.
Beberapa capaian lain yang dicatat oleh Diskopukm antara lain:
- 281 Nomor Induk Berusaha (NIB)
- 70 sertifikat halal
- 11 produk industri rumah tangga (PIRT)
- 67 fasilitasi kemasan
Selain itu, program ini juga berhasil memberikan fasilitasi pembiayaan kepada 102 orang senilai Rp 167.950.000. Total tabungan yang terkumpul mencapai Rp 68.601.800. Selain itu, terdapat 48 mitra kolaborasi dan 114 bazar pemasaran yang terbentuk melalui program ini. Bahkan, beberapa KBR telah berhasil menghasilkan koperasi.
Peran Anggota KBR dalam Pemberdayaan Masyarakat
Anggota KBR memiliki peran vital dalam memperkuat ekonomi masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi pelaku utama dalam penyuluhan literasi keuangan, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya akses ke lembaga keuangan resmi. Dengan demikian, mereka membantu masyarakat untuk lebih mandiri dalam mengelola keuangan dan menghindari ketergantungan pada rentenir.
Dalam prosesnya, para anggota KBR juga terlibat langsung dalam pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Misalnya, mereka membantu dalam pembuatan produk olahan, pemasaran, dan pengemasan. Dengan begitu, setiap KBR tidak hanya fokus pada penanggulangan masalah rentenir, tetapi juga pada penguatan ekonomi lokal.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meski telah mencapai banyak pencapaian, program KBR masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program ini. Untuk itu, Diskopukm terus berupaya untuk memperluas sosialisasi dan memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan dan organisasi masyarakat.
Harapan besar ditempatkan pada program ini agar dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Dengan dukungan yang kuat, KBR diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rentenir dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Tinggalkan Balasan