Peristiwa Banjir Bandang di Aceh Tamiang

Peristiwa banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang menyebabkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Salah satu korban terdampak adalah seorang bocah bernama Farhan, yang harus bertahan di atas pohon mangga selama dua hari tanpa makan dan minum untuk menyelamatkan diri dari terjangan air deras.

Farhan bersama kakaknya terjebak dalam banjir bandang yang datang secara tiba-tiba. Mereka memanjat pohon mangga sebagai tempat berlindung sementara. Dalam situasi yang sangat menegangkan, keduanya hanya bisa berpegangan pada batang pohon sambil berharap bantuan segera datang. Selama dua hari, mereka menghadapi rasa lapar, dingin, dan ketakutan yang luar biasa.

Kehilangan Keluarga dan Pencarian Bantuan

Saat proses evakuasi berlangsung, sang ibu terpisah dari kedua anaknya. Namun, akhirnya Farhan dan kakaknya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Meskipun tubuh mereka lemah, nyawa mereka tetap terjaga. Keberhasilan pencarian ini menjadi angin segar bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Ketika Zaskia Adya Mecca bertemu dengan Farhan di pengungsian, ia melihat bocah itu tampak pemalu dan ketakutan. Farhan berdiri sambil memegang erat pinggang ibunya, seolah tak ingin melepaskan perlindungan yang tersisa. Saat ditanya tentang ketakutannya, Farhan memberi jawaban yang polos dan membuat semua orang di sekitar tertawa.

Ia mengaku takut melihat wajah Zaskia yang tampak begitu putih. Jawaban itu akhirnya mencairkan suasana, dan Zaskia serta saudaranya pun langsung tertawa kecil dan meminta maaf sambil bercanda karena wajah mereka terlalu putih.

Tanggung Jawab Lingkungan dan Penanganan Bencana

Zaskia Adya Mecca turun ke lokasi bencana alam di Aceh Tamiang. Ia menyuarakan kemarahan dan keprihatinan setelah melihat langsung kondisi wilayah terdampak banjir bandang. Menurutnya, faktor-faktor seperti pembebasan lahan, pembakaran hutan, penebangan pohon, dan aktivitas pertambangan menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang berdampak besar terhadap masyarakat.

“PUAS KALIAN YANG MENGGUNDULKAN HUTAN?! Bisa tidur nyenyak? Bahagia dengan harta yang kalian dapatkan dari itu semua?” tulis Zaskia di Instagram. Ia menyoroti dampak buruk dari keegoisan para pelaku tersebut, termasuk hilangnya jiwa, kerusakan harta benda, dan ancaman kelaparan.

Bantuan yang Terlambat dan Kekurangan Sumber Daya

Zaskia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap lambatnya penanganan dan alur bantuan bagi warga terdampak. Ia menanyakan bagaimana cara mengatasi masalah ini dan bagaimana proses recovery ke depannya.

Dalam kunjungannya, Zaskia mendapati sebuah pesantren dengan hampir seribu santri yang mengalami kerusakan parah. Lima hektare area belakang pesantren disebut tertimbun lumpur tebal dan bongkahan kayu besar. “Hancur semua! Siapa yang akan merapikan? Membangunnya kembali?” tegas Zaskia.

Ia menegaskan bahwa relawan telah mengerahkan tenaga, waktu, dan harta untuk membantu warga dan mendistribusikan bantuan. Namun, ia mengingatkan bahwa relawan tidak memiliki kemampuan untuk membuka akses dan menyingkirkan material besar tanpa dukungan alat berat. “Geraklah cepat dengan semua kemampuan yang kalian miliki atas keuntungan yang didapat. Karena saat ini kami bertarung melawan waktu!” serunya.

Ajakan untuk Bersama-sama Bergerak

Zaskia mengaku emosional saat akses menuju Tamiang baru terbuka, karena masih banyak lokasi lain yang belum dapat ditembus. Ia mengajak masyarakat luas yang memiliki kelonggaran waktu, tenaga, dan materi untuk ikut membantu.

“Ayo gerak! Kita sama-sama bergerak,” tutupnya.