Kegiatan Kemanusiaan di Wilayah Terdampak Bencana
Di tengah belum meratanya distribusi bantuan pemerintah pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatra, seperti Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat, sejumlah warga dan relawan bergerak secara mandiri untuk membantu para korban. Aksi kemanusiaan ini muncul dari kepedulian masyarakat yang melihat masih banyak wilayah terdampak belum tersentuh bantuan secara optimal.
Selama dua pekan terakhir, berbagai komunitas, individu, hingga figur publik turun langsung ke lapangan. Bantuan disalurkan mulai dari evakuasi korban, pencarian keluarga yang terpisah, distribusi beras dan logistik, hingga penggalangan donasi dengan memanfaatkan media sosial.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (5/12/2025), jumlah korban meninggal tercatat 867 orang, 521 warga dinyatakan hilang, dan sekitar 4.200 orang mengalami luka-luka. Meski demikian, hingga kini pemerintah belum menetapkan status bencana nasional atas peristiwa tersebut dan menilai penanganan sudah dilakukan dalam skala nasional.

Gerakan Relawan di Aceh Tengah
Di Aceh Tengah, beberapa komunitas lokal membentuk posko kemanusiaan guna membantu masyarakat terdampak. Salah satu relawan, Romex Sibro, mengatakan akses menuju wilayah Takengon masih terbatas akibat terputusnya sejumlah jalur darat.
“Bantuan sulit masuk karena sebagian besar jalan belum bisa dilalui kendaraan. Ke desa-desa, relawan harus jalan kaki,” ujarnya.
Keterbatasan akses ini membuat relawan memanfaatkan media sosial untuk menghubungkan keluarga korban yang terputus komunikasi. Mereka juga menyusuri sejumlah desa dengan sepeda dan berjalan kaki untuk menyampaikan kabar kepada pihak keluarga di luar daerah.
Data BNPB menyebut, di Aceh Tengah terdapat 22 korban meninggal, 23 orang hilang, dan 37 orang luka-luka. Pemerintah telah mengirimkan bantuan melalui jalur udara, termasuk beras dan makanan siap saji, namun relawan menilai pasokan tersebut masih belum mencukupi kebutuhan di wilayah pelosok.
Aksi Warga di Aceh Tamiang
Kondisi serupa terjadi di Aceh Tamiang. Seorang pengusaha restoran, Saifuddin, meski tempat usahanya rusak diterjang banjir, tetap membagikan beras, roti, serta air bersih kepada warga secara gratis.
Salah seorang warga Sumatra Utara, Rizki Syahputra, yang sempat terjebak di kawasan tersebut menceritakan sulitnya mendapatkan makanan dan air minum beberapa hari setelah bencana. Ia akhirnya keluar dari wilayah terdampak dengan menempuh perjalanan dua hari satu malam menuju Medan, sambil menolong warga lain, termasuk seorang ibu hamil, untuk mendonasikan tumpangan keluar dari lokasi banjir.
Korban Bantu Korban di Sumatra Barat
Di Kabupaten Agam, Sumatra Barat — wilayah dengan korban terbanyak — warga yang juga terdampak turut menjadi relawan evakuasi. Riko Putra Ardianto bersama para pemuda setempat membantu mengevakuasi warga yang masih selamat hingga jenazah korban banjir bandang dari timbunan lumpur.
Selain itu, Ira Eka Putri, seorang bidan desa, memberikan pertolongan pertama kepada para korban luka dengan peralatan terbatas saat listrik padam total di lokasi pengungsian. Sementara anggota Basarnas Padang, Andi Wijaya, tetap menjalankan tugas evakuasi meski keluarganya sendiri juga terdampak banjir.
Penggalangan Donasi oleh Warga dan Figur Publik
Bergeraknya warga tak hanya datang dari relawan lokal, tetapi juga kreator konten dan figur publik yang menggalang dana untuk membantu korban. Konten kreator asal Padang, Rico Saptahadi, mengumpulkan donasi sekitar Rp200 juta yang kemudian disalurkan untuk kebutuhan pangan di Palembayan, Kabupaten Agam.
Kreator lainnya, Ferry Irwandi, melalui platform donasi daring berhasil menghimpun lebih dari Rp10 miliar. Bantuan berupa logistik, makanan bergizi, perlengkapan bayi, serta sarana kebersihan dikirim ke daerah pedesaan yang masih minim pasokan. Komika Praz Teguh juga menggalang donasi sejumlah Rp4,3 miliar dan turun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan.
Inisiatif masyarakat ini mendapat apresiasi dari Wakapolri Dedi Prasetyo yang menilai peran aktif warga dan publik figur sangat membantu percepatan distribusi logistik ke wilayah terdampak.
Sementara itu, pemerintah tetap belum menetapkan status bencana nasional atas banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno menegaskan penanganan dilakukan dengan pengerahan penuh sumber daya nasional, melibatkan kementerian dan lembaga terkait, TNI, Polri, serta BNPB.
Di tengah perdebatan soal status bencana tersebut, gerakan “warga tolong warga” terus berjalan, menjadi gambaran kuat solidaritas masyarakat ketika bantuan belum sepenuhnya menjangkau semua korban.

Tinggalkan Balasan