Peningkatan Kegempaan Gunung Burni Telong Diperhatikan Secara Serius

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menyampaikan bahwa peningkatan kegempaan Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, teramati semakin intensif dan semakin dangkal. Hal ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam aktivitas gunung berapi tersebut.

Status aktivitas Gunung Burni Telong dinaikkan menjadi Level II atau Waspada sejak 25 November 2025 setelah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan yang mencerminkan adanya tekanan yang meluas di area sekitar gunung. Peningkatan ini didasarkan pada terekamnya gempa tektonik magnitudo 4,3 pada hari yang sama.

Lana Saria menjelaskan bahwa peningkatan kegempaan saat ini teramati semakin intensif dan semakin dangkal. “Terekamnya gempa tektonik lokal menunjukkan peningkatan tekanan yang mencakup area yang cukup luas. Jumlah gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal yang meningkat menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan pergerakan magma/fluida semakin dangkal,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat, 5 Desember 2025.

Ia juga mengatakan bahwa gempa tektonik dapat memicu erupsi gunung tersebut. “Potensi bahaya letusan Gunung Burni Telong berupa erupsi yang dapat dipicu oleh gempa tektonik di sekitar Gunung Burni Telong atau pun terjadi erupsi freatik tanpa disertai peningkatan kegempaan yang signifikan,” tambahnya.

Selain itu, Lana menyebutkan bahwa gunung tersebut juga menyimpan potensi bahaya lainnya, yakni embusan gas vulkanik. “Potensi ancaman bahaya lain dapat berupa embusan gas-gas vulkanik di daerah sekitar tembusan solfatara dan fumarol yang dapat membahayakan jika konsentrasi gas yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman,” jelasnya.

Pada 4 Desember 2025, Badan Geologi mengumumkan perluasan daerah potensi bahaya Gunung Burni Telong dari radius 1,5 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah setelah teramati terjadinya peningkatan gempa vulkanik dangkal.

Dalam periode 4 Desember hingga 5 Desember 2025 pukul 11.00 WIB, Badan Geologi mencatat sebanyak 53 kali gempa vulkanik dangkal, 39 kali gempa vulkanik dalam, dan 10 kali gempa tektonik lokal. Pengamatan visual menunjukkan tidak teramati asap dari kawah Gunung Burni Telong.

Lana mengatakan bahwa Badan Geologi masih mempertahankan status aktivitas Gunung Burni Telong pada Level II atau Waspada. Daerah bahaya masih dipertahankan dalam radius 3 kilometer dari kawah. Masyarakat diminta untuk tidak berada di daerah fumarol dan solfatara pada saat cuaca mendung atau hujan karena potensi konsentrasi gas dapat membahayakan kehidupan.

Gunung Burni Telong merupakan gunung tipe strato dengan ketinggian puncak 2.624 mdpl. Badan Geologi menempatkan Pos Pengamatan Gunung Burni Telong di Desa Serule Kayu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.