Kecintaan terhadap Tari Jaipong Membentuk Semangat Shandy Nadia Puji Aulia

Kecintaan terhadap kesenian daerah, khususnya seni tari, menjadi pendorong utama Shandy Nadia Puji Aulia dalam menjaga kelestarian tari jaipong. Dengan berbagai keterbatasan, pada usia yang relatif muda, yaitu 20 tahun, dia memutuskan untuk mendirikan Sanggar Jaipong Modern Baskara Gamada. Inisiatif ini dilakukan dengan semangat untuk mengembangkan ilmu yang telah dipelajarinya sejak kecil dan berbagi kepada anak-anak.

Shandy mengungkapkan motivasinya saat berbicara di sela acara Festival Tradisional (Festra) 2025 di Gedung Lokantara Budaya, RRI Bandung, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak memiliki bekal yang dapat mendukung prestasi mereka di masa depan, termasuk dalam pendidikan tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Awal perjalanan Shandy dalam menari dimulai sejak usia 4 tahun dari orang tuanya. Tanpa pendidikan seni tari secara khusus, ia berani mendirikan sanggar di rumahnya, Kampung Mulyasari, Kelurahan/Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Di tempat ini, sekitar 40 anak usia SD hingga SMA belajar menari setiap Sabtu dan Minggu. Meskipun fasilitasnya terbatas, mereka diberikan pelatihan tari jaipong modern yang memadukan elemen dance yang populer di media sosial sebagai inspirasi.

Dengan kreasi gerakan tari jaipong yang dikembangkannya, beberapa anak telah meraih prestasi di tingkat kabupaten dan provinsi, bahkan mewakili Jawa Barat dalam lomba tari tingkat nasional. Shandy menyebutkan bahwa tim yang dibawanya terdiri dari lima anak, dan mereka telah memberikan yang terbaik dalam pertandingan. Hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya pada penilaian juri, tetapi minimal anak-anak bisa mengukur kemampuan mereka melalui kompetisi dengan sanggar dan sekolah lain di Jabar.

Festra 2025 diselenggarakan oleh Lingkung Seni Tradisional Universitas Katolik Parahyangan (Listra Unpar). Dalam lomba tari kreasi daerah nusantara tersebut, hadir beberapa maestro tari seperti Didi Nini Thowok dan Mimi Kartini sebagai bintang tamu. Ketua Pelaksana Festra 2025, Emmanuella Sherafina, menjelaskan bahwa gelaran tahunan ini diikuti 25 tim dari berbagai daerah di Jabar. Lomba tari dibagi dalam dua kategori, yakni Kategori A untuk usia 6-15 tahun dan Kategori B untuk usia 16-25 tahun.

Melalui Festra 2025, Emmanuella berharap seni tradisional nusantara, khususnya Jawa Barat, bisa semakin dikenal dan disukai oleh anak-anak dan generasi muda. Ia berharap acara ini dapat memberikan kesan dan pesan yang positif bagi semua pihak.

Upaya Melestarikan Seni Tradisional

Shandy Nadia Puji Aulia adalah contoh nyata dari semangat muda yang berupaya melestarikan seni tradisional. Dengan dedikasi dan inovasi, ia berhasil menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan menarik bagi anak-anak. Dalam proses pembelajaran, ia tidak hanya mengajarkan teknik dasar tari jaipong, tetapi juga memperkenalkan elemen-elemen modern yang bisa menarik minat generasi muda.

Beberapa hal yang dilakukan oleh Shandy dalam mengembangkan Sanggar Baskara Gamada antara lain:

  • Menggabungkan tari jaipong dengan alur dance yang viral di media sosial
  • Menyediakan fasilitas seadanya namun tetap memperhatikan kualitas pengajaran
  • Mengajak anak-anak untuk ikut serta dalam kompetisi tingkat lokal dan nasional
  • Membangun kepercayaan diri dan keterampilan anak melalui latihan rutin

Selain itu, Shandy juga berkomitmen untuk membantu anak-anak dalam mempersiapkan masa depan mereka. Ia percaya bahwa seni tari bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan potensi diri dan meningkatkan kualitas hidup.