Menteri Dalam Negeri Pujai Kepulauan Banda sebagai Destinasi Wisata Internasional
Pada acara pembukaan Bana Heritage Festival 2025, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menyampaikan kesannya setelah berkunjung ke Kepulauan Banda. Ia mengakui bahwa keindahan alam dan kekayaan budaya yang ada di sana sangat luar biasa.
Selama dua hari berada di Kepulauan Banda, Mendagri melakukan survey terhadap alam bawah laut yang ada di sana. Hasilnya mengejutkan karena ia menyebut bahwa alam bawah laut Banda masuk dalam kelas internasional. Pengalaman ini juga didukung oleh pengalamannya sendiri saat diving bersama istri. Menurutnya, kerapatan koloni karang masih terjaga dengan baik.
“Saya sudah menyelam hampir 30 tahun, dan istri saya hampir 10 tahun. Dari tempat-tempat yang saya datangi seperti Raja Ampat, Kaimana, dan lain-lain, jujur baru tiga kali turun di Banda saya temukan gugusan terumbu karang yang sangat utuh, tebal, dan masih hidup,” ujar Mendagri saat berbicara di acara tersebut.
Bukan hanya itu, beberapa biota laut hanya ditemukan di Kepulauan Banda. Air laut yang jernih memungkinkan pengunjung melihat objek di bawah permukaan hingga kedalaman puluhan meter. Ia juga menyebutkan adanya coral yang beragam dan ikan-ikan besar seperti ikan Napoleon dan kumpulan ikan Hiu macam-macam.
“Kami menemukan ikan Napoleon yang jumlahnya belasan di Pulau Banda. Kumpulan Hummer head ikan Hiu macam-macam semuanya ada di Banda,” tambahnya.
Menurut Tito, Banda memiliki kekayaan yang melimpah ruah, baik dari segi alam maupun keindahan pemandangan. Ia bahkan menyamakan keindahan Banda dengan destinasi wisata internasional Maldives. “Titik tertinggi Maldives hanya 2 meter, sedangkan saat memasuki Banda mata sudah dimanjakan dengan bingkai Gunung Api Banda yang sudah sangat melegenda hingga dijadikan simbol mata uang RI Rp 1.000,” jelasnya.
Dari sisi sejarah, Tito mengulas julukan Banda sebagai Spice Island yang menjadi rebutan. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa Banda kaya akan budaya. Budaya Banda berkembang ratusan atau ribuan tahun dari kebudayaan masyarakat lokal serta masuknya para pendatang dari berbagai daerah di Nusantara.
“Budaya Sulawesi, Jawa, Cina, Arab, Eropa membuat budaya yang ada di Banda adalah campuran dari berbagai budaya dan menjadi budaya khas Banda. Budaya ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Tito.
Sebelum acara festival, ada acara adat Buka Kampung dan ritual tertentu seperti di Sumur Pusaka Negeri Lonthoir.
Namun, meskipun Banda memiliki kekayaan alam yang luar biasa, Mendagri menyampaikan kekhawatiran tentang pertumbuhan anak-anak di Kepulauan Banda. Meski ikan begitu berlimpah, postur fisik anak-anak tidak sesuai dengan usia mereka.
“Saya sempat berkunjung ke sekolah dan membagikan botol minum. Saya tanya ke anak-anak umur mereka, ada yang menjawab 13 tahun, 12 tahun, tapi saya lihat posturnya kok tidak sesuai,” cerita Mendagri.
Ia menegaskan bahwa masalah ini perlu segera dibenahi karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang patut diperhatikan.

Tinggalkan Balasan