Fenomena Gen Z dan Tren Jamu di Media Sosial



Belakangan ini, media sosial khususnya TikTok menjadi tempat yang penuh dengan video-video dari Gen Z yang membeli atau memesan jamu dengan gaya yang kreatif dan jenaka. Mereka ramai membuat konten dengan tema “info party jamu” yang menarik perhatian banyak orang.

Tidak lagi identik sebagai minuman tradisional yang hanya diminum oleh orang tua, jamu kini muncul sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang digandrungi oleh generasi muda. Menurut Ketua Umum PDPOTJI, DR. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal), fenomena ini mencerminkan kesadaran baru anak muda terhadap kesehatan serta ketertarikan mereka pada kearifan lokal.

“Gen Z mulai sadar akan pentingnya kesehatan dan tertarik menggali budaya herbal Indonesia. Mereka kreatif, suka hal anti-mainstream, dan melihat jamu sebagai alternatif minuman kekinian yang lebih sehat,” ujar dr. Inggrid saat dihubungi.

Ia menambahkan bahwa jamu bahkan mulai dianggap sebagai opsi pengganti kopi atau minuman manis populer seperti boba. Misalnya, jamu pahitan disebut-sebut sebagai americano versi herbal, sedangkan beras kencur menjadi pilihan minuman manis yang lebih sehat karena kandungan herbalnya.

Manfaat Jamu yang Populer di Kalangan Gen Z

Fenomena ini juga membuat beberapa jenis jamu kembali naik daun. Berikut manfaatnya menurut dr. Inggrid Tania:

  • Beras kencur

    Jamu beras kencur banyak diminati karena rasanya yang manis dan menyegarkan, sekaligus memberikan manfaat untuk meredakan pegal-pegal ringan, membantu melegakan batuk, memberikan efek relaksasi tubuh.

    Beras kencur juga dapat menjadi alternatif minuman manis yang lebih sehat bila penggunaan gula dibatasi.

  • Kunyit asam

    Kunyit asam dikenal sebagai jamu yang menyegarkan dan baik untuk pencernaan.

    Pada perempuan, minuman ini membantu meredakan nyeri menjelang menstruasi (PMS). Namun, laki-laki juga dapat mengonsumsinya karena manfaat utamanya tidak terkait hormon tertentu.

  • Jamu pahitan (sambiloto–brotowali)

    Jamu ini kini populer di TikTok karena dianggap sebagai “minuman pahit sehat” yang multifungsi.

    Manfaatnya antara lain memperbaiki pencernaan, mengurangi gatal pada kulit, membantu mengurangi bau badan, meningkatkan imunitas, menormalkan gula darah, memperbaiki selera makan.

  • Cabai puyang

    Jika pegal atau nyeri tubuh terasa cukup berat, dr. Inggrid menyarankan jamu cabai puyang yang berbahan cabai jawa dan lempuyang.

    Jamu ini efektif untuk meredakan pegal berat, membantu menenangkan tubuh setelah aktivitas fisik intens.

Amankah Minum Jamu Setiap Hari?

Menurut dr. Inggrid, jamu segar memiliki profil keamanan yang mirip jus buah: bahan-bahannya dapat bervariasi mengikuti selera, dan secara umum tetap aman. Namun ada batas konsumsi yang sebaiknya diperhatikan.

  • Untuk menjaga kesehatan: 1–2 gelas per hari
  • Untuk mengatasi keluhan tertentu: hingga 3–4 gelas per hari

    “Maksimal empat gelas sehari. Lebih dari itu bisa menimbulkan efek samping seperti nyeri perut atau diare,” jelasnya.

Jamu juga aman diminum jangka panjang, bahkan setiap hari, selama penggunaan gula tidak berlebihan. Sebaiknya memilih pemanis seperti gula aren, gula kelapa, madu, atau stevia karena lebih baik dibanding gula pasir.

Tips Aman Memilih Jamu

Agar tren jamu tetap menyehatkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Gen Z saat membeli atau membuat jamu:

  • Perhatikan wadahnya

    Hindari jamu yang disajikan dalam botol plastik bekas air mineral. Risiko mikroplastiknya tinggi, apalagi kalau jamu dituangkan saat panas. Mikroplastik bisa ikut tertelan dan berisiko memicu kanker. Botol kaca atau plastik tebal BPA-free adalah pilihan lebih aman.

  • Pilih pedagang jamu yang bersih

    Pastikan warna jamu tidak mencurigakan atau terlalu mencolok. Hindari pedagang yang menggunakan pewarna atau pengawet buatan.

  • Batasi gula dan pilih pemanis alami

    Penggunaan gula yang berlebihan dapat menurunkan manfaat jamu. Pemanis alami seperti gula aren, madu, atau stevia lebih direkomendasikan.

Fenomena meningkatnya minat Gen Z terhadap jamu tak hanya menghidupkan kembali tradisi herbal Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bahwa gaya hidup sehat bisa tetap relevan di era digital. Bagi banyak anak muda, jamu kini bukan sekadar minuman warisan, melainkan pilihan wellness yang menyenangkan dan penuh manfaat.