Pengalaman Pribadi dengan Nasi Besek

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri sebuah acara diskusi tentang perubahan iklim yang berlangsung di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. Sebelum acara dimulai, peserta diberikan makan siang. Yang membuat saya senang adalah, makan siang tersebut bukan dalam bentuk nasi kotak, melainkan nasi besek.

Lho, memang apa bedanya? Bentuknya kan mirip. Eits, jelas beda. Jika nasi kotak menggunakan kardus dan lauknya dibungkus plastik, maka nasi besek menggunakan daun pisang sebagai bungkusannya. Ini lebih ramah lingkungan karena daun pisang tidak merusak bumi.

Besek sendiri adalah wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Sudah ratusan tahun masyarakat tradisional menggunakan besek dalam berbagai acara seperti hajatan atau perayaan. Dahulu, lauk-pauknya ditaruh pada pincuk-pincuk kecil dari daun pisang. Karena itu cita rasanya tetap terjaga, masakan terasa sangat sedap.

Setelah makanan habis, besek anyaman bambu tersebut tidak dibuang. Besek bisa dimanfaatkan kembali untuk menjadi wadah bumbu dapur. Saya ingat, ibu saya menaruh bawang merah, bawang putih, cabai, dan lain-lain di dalamnya. Jadi, besek memiliki fungsi ganda, tergantung kebutuhan ibu di dapur.

Era Plastik dan Penurunan Penggunaan Besek

Kemudian ketika muncul era plastik, penggunaan besek mulai ditinggalkan. Plastik menawarkan harga yang jauh lebih murah dan mudah didapat. Masyarakat beralih menggunakan plastik untuk berbagai keperluan. Wadah plastik pun banyak yang dibuat modelnya seperti anyaman bambu sehingga orang-orang menyukainya.

Makanan yang dibungkus dari gerai restoran biasanya menggunakan wadah dari plastik. Sementara katering menggunakan kotak kardus, sayangnya lauk dibungkus plastik. Akhirnya penggunaan plastik meningkat drastis. Banyak limbah plastik di mana-mana. Tak heran, TPA sampah menggunung dan mencemari lingkungan.

Kesadaran Go Green

Dunia mulai bangkit dengan kesadaran bahwa harus menyelamatkan bumi dari limbah plastik yang sulit diurai selama puluhan tahun. Gaya hidup go green mulai disosialisasikan oleh lembaga-lembaga peduli lingkungan. Kemudian juga merambah ke Indonesia.

Perlahan sebagian masyarakat kita mulai sadar untuk mengurangi pemakaian plastik. Terutama dari peralatan makan yang biasa kita gunakan. Misalnya gelas, sendok, botol hingga wadah makanan. Kesadaran ini menghidupkan kembali budaya masyarakat yang mendekat ke alam seperti memakai besek.

Hal ini juga tak lepas dari sudut pandang content creator yang melihat bahwa besek adalah wadah yang estetik yang dapat menjadi penghias rumah. Dalam pembuatan foto dan video untuk iklan makanan, besek pun tampak cantik dan menarik.

Di kota metropolitan Jakarta, jasa katering sudah berani menawarkan paket nasi besek. Masyarakat perkotaan yang lebih berpendidikan, menyukainya. Meskipun harganya lebih mahal dari nasi kotak, banyak konsumen yang memilih nasi besek. Lalu besek mulai populer lagi di kalangan masyarakat kelas menengah.

Potensi Ekonomi dari Kerajinan Besek

Penggunaan besek membuka peluang ekonomi pedesaan yang masih memiliki hutan bambu. Besek menjadi kerajinan yang bisa dijual di kota dengan harga yang lumayan. Saat ini harga besek berkisar antara Rp.1500 – Rp.5000,- tergantung ukuran kecil atau besar.

Sebagai contoh di kabupaten Batang, Jawa Tengah, masih banyak terdapat pengrajin besek. Mereka membuat besek dari bahan bambu apus yang tidak mudah pecah atau sobek saat di bilah. Bambu-bambu ini tumbuh subur di pekarangan penduduk, jadi mudah didapat tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Dalam satu keluarga, jika yang menjadi pengrajin besek adalah suami istri, rata-rata menghasilkan 20 besek sehari. Maka penghasilan mereka boleh dibilang lumayan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi jika ada peningkatan permintaan.

Kerajinan besek juga berpotensi ekspor. Masyarakat internasional yang sadar untuk menyelamatkan bumi, pasti akan memilih wadah yang ramah lingkungan. Besek bebas dari zat kimia dan dapat difungsikan kembali.