Respons PBNU terhadap Aksi Gus Elham yang Menimbulkan Kontroversi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan respons terkait tindakan seorang pendakwah asal Kediri, Jawa Timur, yang dikenal dengan nama Gus Elham. Aksi Gus Elham yang viral di media sosial akhir-akhir ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Ia menjadi perhatian publik setelah melakukan aksi mencium anak perempuan saat sedang berdakwah.

Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Mereka menilai bahwa tindakan tersebut bisa dianggap sebagai pelecehan. Sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peran penting dalam memandu masyarakat, PBNU merasa perlu memberikan tanggapan atas kejadian ini.

Pendapat dari Ketua PBNU Bidang Keagamaan

Ketua PBNU Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Fahrur, menyampaikan pandangan mengenai aksi Gus Elham. Menurutnya, tindakan yang dilakukan oleh Gus Elham seharusnya tidak dilakukan di depan khalayak umum. Hal ini karena dapat menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman.

“Sebaiknya memang tidak dilakukan terbuka di depan khalayak. Termasuk kategori menimbulkan fitnah. Apalagi terlihat anaknya sudah cukup besar, bukan balita lagi,” ujar Gus Fahrur pada Rabu (12/11).

Menurutnya, mencium anak perempuan yang masih bayi atau balita dalam konteks menunjukkan kasih sayang tanpa syahwat diperbolehkan, selama hal itu tidak menimbulkan fitnah. Namun, jika anak perempuan sudah tumbuh besar, maka tindakan tersebut dianggap haram dan tidak diperbolehkan meskipun tanpa niat syahwat.

“Jika anak perempuan sudah terlihat menarik perhatian lawan jenis dan sudah bisa bersolek maka termasuk kategori wanita dewasa dan tidak boleh dicium oleh orang lain,” tambahnya.

Pentingnya Menghindari Tindakan yang Bisa Menimbulkan Fitnah

Meski demikian, Gus Fahrur menekankan bahwa sebaiknya perlakuan seperti itu dihindari di era sekarang. Ia menyarankan agar hanya dilakukan kepada anak atau cucu sendiri agar tidak menjadi fitnah dan kesalahpahaman.

“Kecuali kepada anak atau cucu sendiri, agar tidak menjadi fitnah dan kesalahpahaman,” ujarnya.

Atas aksi Gus Elham tersebut, Gus Fahrur mengingatkan agar lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia menegaskan bahwa sebagai dai yang mulai dikenal masyarakat, Gus Elham harus waspada dan bisa menasihati diri sendiri sebelum menasihati orang lain.

“Dai harus menjadi contoh perilaku yang baik dan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW,” katanya.

Kesimpulan

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para dai dan tokoh agama untuk lebih memperhatikan tindakan mereka di depan khalayak. Meskipun tujuan utama adalah menyampaikan pesan keagamaan, cara penyampaian juga harus disesuaikan dengan norma dan etika yang berlaku. Dengan demikian, tidak hanya pesan yang disampaikan tetapi juga contoh perilaku yang baik dapat menjadi pedoman bagi masyarakat.