Penyelenggaraan 4th Internasional Conference on Digital Humanities (CODH-2025) di ITB

Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan bangga mengumumkan penyelenggaraan 4th Internasional Conference on Digital Humanities (CODH-2025), yang akan diselenggarakan pada 28–29 Oktober 2025 di Auditorium IPTEKS Campus Center Timur, ITB Jalan Ganesha 10, Bandung. Konferensi ini menjadi agenda tahunan yang rutin diadakan setiap bulan Oktober atau November, dan kini memasuki tahun ke-4, menandai perjalanan panjang dalam membangun komunitas akademik global di bidang humaniora digital.

Tahun ini, CODH-2025 menghadirkan sekitar 32 pembicara dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, Jerman, Italia, dan Afrika Selatan. Para pembicara ini hadir secara langsung maupun daring untuk berbagi penelitian dan gagasan inovatif. Tema utama konferensi tahun ini adalah “Technoculture and Beyond: Rethinking the Human in a Digital World”, dipilih sebagai respons terhadap dinamika era digital yang terus berubah.

Masa depan humaniora digital menekankan pentingnya kepedulian, komunitas, dan kolaborasi sebagai prinsip dasar. Gerakan ini melampaui model individualistis atau proyek yang terfokus pada hasil tunggal, beralih ke pendekatan berorientasi proses dan hubungan yang memprioritaskan kesejahteraan kolektif, saling mendukung, serta pengelolaan bersama atas sumber daya digital. Pendekatan ini mendorong kolaborasi lintas disiplin, kelembagaan, dan geografis, serta membangun jaringan tangguh untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, tanpa melupakan sisi kemanusiaan.

Lanskap humaniora digital yang dinamis menuntut perhatian berkelanjutan terhadap isu-isu literasi digital dan partisipasi yang setara. Dalam era teknologi canggih, memastikan bahwa akademisi, mahasiswa, dan komunitas—terutama dari wilayah dengan akses terbatas—tetap dapat berkontribusi adalah kunci untuk mencegah semakin dalamnya kesenjangan digital dan pendidikan. Masa depan humaniora digital setelah 2025 ditandai oleh interaksi kompleks antara inovasi teknologi, keadilan sosial, tanggung jawab lingkungan, dan nilai-nilai berbasis komunitas.

Dalam sambutannya, Dr. Harry Nuriman, Ketua Panitia Penyelenggara CODH-2025, menyampaikan komitmen ITB terhadap pengembangan humaniora digital. Hal ini dibuktikan dengan diluncurkannya Program Magister Teknokultur secara resmi mulai tahun ajaran 2025/2026.

“Program ini dirancang sebagai wadah integratif antara keilmuan teknologi, seni, dan humaniora dalam konteks sosial budaya. Kami sangat mendorong lulusan S1 dan D4 dari berbagai jurusan di Indonesia dan luar negeri untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 di bidang ini,” ujar Harry.

Konferensi ini menghadirkan dua narasumber utama yang berpengaruh. Dr. Herman Suryatman, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, akan memberikan keynote speech menggambarkan visi transformasi digital yang berbasis kearifan lokal. Ia menyatakan, “Sekarang zaman sudah beda. It’s not about the big eat the small, but it’s about the fast eat the slow. Sekarang bukan zamannya yang besar memakan yang kecil, tapi yang cepat memakan yang lambat.”

Dengan teknokultur dan pemanfaatan digitalisasi secara maksimal, Indonesia Emas 2045 akan bisa dicapai sepuluh tahun lebih cepat. “Jawa Barat siap menjadi entry point melalui Jawa Barat Emas di tahun 2035,” lanjut Herman.

Sementara itu, Dr. Denzil Chetty dari University of South Africa, akan menyampaikan wawasan global tentang digital justice dan inklusivitas dalam kajian humaniora digital. “Saat ini perlu ada dekolonisasi artificial intelligence,” papar Denzil.

Salah seorang peserta, Al Indriani, SE, MM, dosen dari STIE Latifah Mubarokiyah Tasikmalaya, mengungkapkan: “Konferensi ini sangat bagus dan menambah wawasan. Materi yang dipaparkan sangat penting untuk pengembangan kemampuan mahasiswa. Para dosen juga akan mendapatkan perpektif baru untuk pembaruan materi ajar.”

Senada dengan Al Indriani, peserta lain bernama Agung Harry Supiana mengatakan, “Sebagai akademisi bidang teknokultur yang aktif di bidang pemerintahan (Dinas Pendidikan), CODH-2025 memberikan saya pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana teknologi dapat digunakan secara etis dan inklusif. Forum ilmiah CODH ini membangun helicopter view untuk melihat lebih jauh tentang penerapan dan permasalahan teknokultur bukan hanya di Indonesia namun dibelahan dunia lainnya, dari sini kami optimis bahwa Indonesia bisa one step ahead dari negara lain karena memiliki modal sosial yang lebih baik. CODH menjadi semacam connecting the doors. Saya juga sangat terbantu dalam membangun jejaring dengan para peneliti dari negara-negara lain. Ini menjadi langkah penting dalam memperkuat jaringan akademik di bidang teknokultur di tingkat regional dan global.”

Dengan mengusung visi yang kuat dan kolaborasi lintas disiplin, CODH-2025 bukan sekadar pertemuan akademik, tetapi sebuah gerakan katalisator untuk membentuk era baru dalam humaniora digital — yang tidak hanya inovatif, tetapi juga etis, inklusif, dan mampu menghadirkan nilai kemanusiaan di tengah revolusi teknologi. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi konferensi https://digitalhumanities.website.