Penutup Musim yang Mengesankan

Seri terakhir dari 76 Indonesian Downhill (IDH) 2025 resmi ditutup di Klemuk Bike Park, Kota Batu. Acara ini menjadi penutup yang sempurna dari rangkaian kompetisi musim ini. Direktur 76 Indonesian Downhill, Aditya Nugraha, menyatakan bahwa ajang tahun ini berjalan dengan sukses dan sesuai harapan penyelenggara.

Menurutnya, semangat kompetitif para pembalap tetap terjaga hingga seri terakhir. Bahkan, persaingan ketat masih terlihat di semua kategori, mulai dari kelas hobi hingga kelas kejuaraan.

“Sampai seri terakhir pun mereka masih berlomba untuk overall point. Tidak peduli kelasnya apa, semua ingin mengejar gelar juara umum,” ujar Aditya.

Ia menjelaskan, sistem poin dan program penentuan juara umum yang diterapkan tahun ini terbukti efektif mendorong para peserta untuk tampil konsisten di setiap seri.

“Program kami untuk membuat sistem poin di setiap kehadiran dan posisi pembalap berhasil memancing semangat kompetitif mereka,” tambahnya.

Aditya menilai musim ini penuh kejutan di berbagai kelas, termasuk kategori Women Youth dan Men Youth. Namun, kejutan terbesar datang dari kelas Men Elite, di mana Pandu Satrio, pembalap debutan atau rookie, berhasil tampil sebagai juara umum.

“Sebenarnya kami tahu Pandu berbakat, tapi tidak menyangka dia bisa menjadi juara keseluruhan. Dari seri satu dan dua, progresnya tidak drastis tapi sangat signifikan. Dia kuat dan konsisten,” kata Aditya.

Ia menjelaskan, performa Pandu meningkat di setiap seri dengan kemampuan membaca posisi dan waktu secara matang.

“Kemarin saat lintasan kering dia bisa nomor satu, dan hari ini dalam kondisi basah pun tetap unggul sekitar tiga detik. Itu pembuktian yang luar biasa untuk seorang rookie rider,” ucapnya.

Perhatian dari Komunitas Internasional

Kesuksesan gelaran IDH 2025 juga menarik perhatian komunitas internasional. Aditya mengatakan, semakin banyak pihak dari luar negeri yang melirik Indonesia sebagai lokasi potensial untuk kompetisi downhill berskala internasional.

“Kami melihat peningkatan minat dari komunitas luar. Tahun depan, kami berencana memperbaiki sistem informasi agar pembalap asing lebih mudah ikut sejak seri pertama,” jelasnya.

Ia mencontohkan, beberapa peserta dari Thailand, Malaysia, dan Filipina tahun ini baru bergabung di seri terakhir karena kurangnya informasi mengenai seri sebelumnya. Karena itu, pihaknya berencana memperkuat komunikasi dan promosi agar partisipasi internasional bisa lebih luas.

Harapan untuk Masa Depan

Lebih lanjut, Aditya berharap perkembangan kompetisi downhill di Indonesia dapat membuka peluang lebih besar bagi para pembalap lokal untuk berkembang, baik secara individu maupun profesional.

“Harapannya, para rider nasional semakin kompetitif dan bisa menarik perhatian banyak pihak, termasuk federasi dan sponsor. Mereka sudah mendedikasikan hidupnya untuk olahraga ini, jadi semoga industrinya juga ikut tumbuh,” ujarnya.

Ia optimistis, dengan semakin seringnya kompetisi digelar, kualitas para pembalap akan terus meningkat.

“Semakin sering balapan digelar, jarak waktu antar pembalap saat race makin tipis. Artinya, mereka makin terpacu untuk berkembang,” pungkas Aditya.