Pergerakan IHSG dan Rupiah di Pasar Saham Indonesia
Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan namun tetap berada di zona hijau pada awal sesi perdagangan. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG berada di posisi 8.099,98, naik sebesar 33,460 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level 8.066,52.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 272 saham mengalami kenaikan di zona hijau, sedangkan 134 saham turun di zona merah. Sementara itu, sebanyak 189 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 967,39 miliar dengan volume perdagangan sebesar 1,171 miliar saham.
Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memprediksi bahwa IHSG akan mengalami pelemahan terbatas pada perdagangan hari Rabu (15/10/2025), setelah sehari sebelumnya ditutup turun sebesar 1,95 persen atau 160,68 poin ke level 8.066.
Pelemahan utama berasal dari sektor transportasi dan logistik yang terkoreksi sebesar 3,99 persen, sementara sektor properti dan real estat menjadi satu-satunya sektor yang menguat tipis sebesar 0,03 persen.
Maxi menyatakan bahwa level 8.000 akan menjadi garis psikologis penting bagi pelaku pasar dan investor, dengan harapan tensi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda.
Sentimen Eksternal yang Mempengaruhi Pasar
Dari segi sentimen eksternal, ada beberapa faktor positif yang memengaruhi pasar. Salah satunya adalah pernyataan Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, yang memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang. Powell menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda pelemahan, yang membuka peluang pemangkasan dua kali lagi hingga akhir tahun ini.
Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok masih menjadi penghambat optimisme pasar. Tiongkok disebut melakukan pembatasan pengiriman terhadap Hanwha sebagai respons atas kebijakan AS, yang menambah kekhawatiran terhadap stabilitas hubungan dagang kedua negara.
Kebijakan DMO Emas dan Dampaknya
Di dalam negeri, investor juga sedang memantau evaluasi kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk emas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kebijakan ini tengah dikaji ulang karena sejumlah perusahaan tambang lebih memilih mengekspor ketimbang menjual ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Menurut analisis, kebijakan DMO emas berpotensi positif bagi Antam karena menjamin pasokan emas domestik dan mengurangi impor. Namun, kebijakan ini dapat menekan margin bagi emiten penambang seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Pergerakan Bursa Asia
Sementara itu, bursa kawasan Asia hari ini mayoritas dibuka hijau. Shanghai Composite naik sebesar 0,28 persen (10.97 poin) di level 3.876,20. Strait Times juga mengalami kenaikan sebesar 0,25 persen (10.939 poin) di level 4.365,45.
Nikkei ikut menghijau sebesar 0,96 persen di level 47.296,00, sedangkan Hang Seng naik sebesar 1,38 persen (351.130 poin) di level 25.792,48.
Pergerakan Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah di zona merah. Melansir data Bloomberg, pukul 09.00 WIB, rupiah berada pada level Rp 16.586 per dollar AS atau merosot 17 poin (0,10 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level Rp 16.603 per dollar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa rupiah akan menguat terhadap dolar AS yang melemah, setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell dinilai kurang agresif atau less hawkish dari perkiraan pasar.
Sementara itu, Presiden The Fed Boston Susan Collins justru menyampaikan pandangan bernada dovish, dengan menilai perlunya pemangkasan suku bunga yang lebih besar ke depan. Ia memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam range 16.550-16.650.

Tinggalkan Balasan