Pengadilan di Bangkok menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Ekkalak Paenoi, warga Thailand yang terbukti membunuh Lim Kimya, mantan anggota parlemen oposisi Kamboja, pada Januari lalu. Kasus ini menjadi sorotan karena memicu dugaan keterlibatan unsur politik di balik pembunuhan tersebut.

Lim Kimya, yang juga berkewarganegaraan ganda Kamboja-Prancis, ditembak mati saat berkunjung ke Bangkok bersama istrinya. Penembakan ini menimbulkan berbagai spekulasi, terutama tudingan terhadap mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, yang masih dianggap berpengaruh di negara tersebut.

Proses Persidangan dan Putusan Hakim

Dalam sidang yang digelar di pengadilan pidana Bangkok, hakim menyatakan tindakan Ekkalak telah menyebabkan kerugian besar bagi penggugat. Karena terdakwa mengaku bersalah, hukuman dikurangi menjadi penjara seumur hidup.

Ekkalak ditangkap sehari setelah kejadian di Kamboja dan mengakui perbuatannya lewat video siaran langsung. Sementara itu, terdakwa kedua, Chakrit Buakhil, dibebaskan dari dakwaan karena dinilai hanya sopir tanpa pengetahuan soal pembunuhan tersebut.

Reaksi Keluarga Korban dan Dugaan Motif

Istri Lim Kimya, Anne-Marie Lim, menyambut putusan tersebut, namun masih mempertanyakan siapa yang memerintahkan pembunuhan itu. Kuasa hukumnya menegaskan bahwa pihak keluarga ingin kasus ini diusut sampai tuntas oleh otoritas terkait.

Hakim tidak mengungkap detil motif di balik pembunuhan atau kemungkinan adanya dalang utama. Beberapa media lokal melaporkan Ekkalak menerima bayaran sekitar 60.000 Baht, namun polisi menyatakan terdakwa mengaku tidak mendapatkan bayaran dan melakukan pembunuhan untuk membayar utang budi.

Pernyataan Pemerintah Kamboja

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet membantah keterlibatan dirinya atau ayahnya, Hun Sen, dalam kasus ini. Hun Sen memimpin Kamboja selama hampir empat dekade hingga 2023 dan sering mendapat tuduhan dari negara Barat dan kelompok HAM terkait penggunaan hukum untuk menekan oposisi.