Peran Konferensi Asia Afrika dalam Menjaga Kedaulatan Negara
Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pandangannya mengenai situasi global yang saat ini sedang dihadapi. Ia menilai dunia tengah berada dalam kondisi tidak stabil akibat berbagai konflik geopolitik. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) masih relevan dalam menjaga kedaulatan negara-negara merdeka dari campur tangan pihak asing.
Dalam pidato utamanya pada seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4), Megawati menyoroti pentingnya kembali pada prinsip-prinsip yang menjunjung kesetaraan antar bangsa. Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Ahmad Basarah, Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana, serta para narasumber seperti Prof Hikmahanto Juwana, Dr. Dina Sulaeman, Andi Widjajanto, dan Heri Akhmadi.
“Saat ini, dunia dihadapkan pada berbagai masalah seperti penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, serta serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Hal ini membuat sistem internasional menjadi guncang,” ujarnya.
Megawati menekankan bahwa semangat KAA, Gerakan Non-Blok (GNB), dan pidato legendaris Bung Karno berjudul To Build The World Anew adalah jawaban untuk mengatasi pengaruh neokolonialisme dan imperialisme. Ia menegaskan bahwa Dasa Sila Bandung merupakan hukum internasional yang diinisiasi oleh Indonesia sebagai benteng dalam menjaga kedaulatan dan kemerdekaan suatu bangsa dari campur tangan pihak luar.
Selain itu, Megawati juga mengenang langkah progresif Indonesia pada tahun 1965 melalui penyelenggaraan Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Hotel Indonesia. Ia menilai peringatan tersebut sangat relevan dengan situasi pertahanan saat ini.
“Berbagai intervensi terhadap negara-negara merdeka dan berdaulat di Amerika Latin maupun Timur Tengah belakangan ini dapat terjadi dengan cepat karena adanya pangkalan militer asing di suatu negara,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan pertahanan Indonesia seharusnya dibangun dengan misi perdamaian dunia dan cara pandang geopolitik yang kuat.
Pandangan Geopolitik Bung Karno
Megawati juga menyampaikan pemikiran geopolitik Bung Karno yang membagi kekuatan dunia menjadi dua: The New Emerging Forces (negara-negara baru merdeka) dan The Old Established Forces (negara-negara mapan). Meski memiliki kapasitas yang berbeda, ia menekankan bahwa keduanya harus digerakkan oleh kodrat yang sama, yaitu memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia.
Menurutnya, di tengah situasi global yang semakin kompleks, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II menjadi sangat relevan sebagai kompas masa depan bangsa dan dunia.
Kesimpulan
Dari berbagai isu yang disampaikan, Megawati menekankan pentingnya kembali kepada nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Dengan membangun persatuan dan kesetaraan, Indonesia dan negara-negara lain dapat menjaga kedaulatan mereka serta menciptakan dunia yang lebih damai dan adil.

Tinggalkan Balasan