Hari Terakhir Tahun 2025 dan Pergantian Tahun yang Berbeda
Rabu lusa, 31 Desember adalah hari terakhir di tahun 2025. Malamnya, tepat pukul 00:00 WIB, tahun 2026 akan kita sambut. Malam pergantian tahun seringkali kita bayangkan sebagai simfoni cahaya di langit, sebuah pesta pora warna yang meledak di tengah kegelapan. Namun, di balik kemegahan yang sekejap itu, ada sebuah jeda yang ingin kita renungkan bersama—sebuah ajakan untuk memeluk sunyi dan meniadakan dentuman kembang api demi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perayaan visual.
Langit yang Sama, Duka yang Berbeda
Tahun ini, saat kita mungkin sedang bersiap menghitung detik menuju perubahan angka, mari kita sejenak menoleh ke arah barat dan berbagai penjuru negeri. Di sana, di tanah Aceh, di sudut-sudut Sumatera Utara, hingga ke pelukan alam Sumatera Barat dan wilayah lainnya, saudara-saudara kita sedang berdiri di atas puing dan genangan. Betapa tidak elok rasanya jika kita menyulut api ke langit, sementara mereka sedang berjuang membersihkan lumpur dari dalam rumah. Betapa pedih jika suara tawa kita yang diiringi dentuman kembang api, justru menenggelamkan isak tangis mereka yang baru saja kehilangan harta benda, atau bahkan orang tercinta akibat musibah alam.
Larangan kembang api kali ini adalah bentuk solidaritas tanpa suara. Ini adalah cara kita berkata kepada mereka: “Kami merasakan luka kalian. Kami tidak sedang berpesta saat kalian sedang berduka.”
Mengapa Kita Memilih Hening?
Larangan menyalakan kembang api bukan sekadar aturan birokrasi, melainkan sebuah manifestasi kasih sayang. Menahan diri dari kemeriahan yang berlebihan adalah penghormatan tertinggi bagi saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Energi yang kita miliki alangkah baiknya disalurkan menjadi doa atau uluran tangan, bukan menjadi asap yang menguap sia-sia.
Di balik dinding rumah sakit dan tenda pengungsian, ada jiwa-jiwa yang butuh ketenangan. Suara ledakan kembang api hanya akan menambah kecemasan bagi mereka yang sedang trauma. Selain itu, hewan peliharaan dan satwa liar seringkali mengalami trauma hebat akibat suara ledakan. Ketakutan mereka adalah jeritan sunyi yang sering kita abaikan. Dengan tidak menyalakan kembang api, kita juga memberikan kado berupa udara yang lebih bersih untuk menyambut fajar pertama di tahun yang baru.
Mencari Cahaya dalam Diri
Mari kita ubah cara kita merayakan transisi waktu. Dibandingkan membakar materi menjadi asap dalam hitungan detik, alangkah indahnya jika percikan cahaya itu kita nyalakan di dalam hati dalam bentuk empati. Pergantian tahun adalah momen untuk introspeksi. Kita bisa mengganti dentuman itu dengan doa yang tulus bagi keselamatan bangsa, makan malam hangat yang sederhana, atau sekadar duduk bersyukur atas keselamatan yang masih kita nikmati.
Biarlah langit tetap gelap, agar bintang-bintang terlihat lebih terang, mengingatkan kita bahwa di tengah kegelapan musibah sekalipun, selalu ada harapan yang bersinar. Setiap ledakan yang tidak kita sulut adalah sebuah penghormatan bagi ketenangan sesama dan bentuk empati bagi saudara-saudara kita yang sedang berduka. Biarlah malam pergantian tahun nanti menjadi malam yang teduh, di mana kita tidak merayakan pergantian angka dengan kebisingan, melainkan dengan kedamaian yang meresap hingga ke kalbu.
Kepada Saudara Kami, Para Penjempat Rezeki:
Kami memahami sepenuhnya bahwa di balik dagangan kembang api dan petasan Bapak dan Ibu, ada keringat dan harapan untuk keluarga. Namun, dengan segala kerendahan hati, kami memohon: Maukah sejenak menahan diri untuk tidak menjualnya di tengah suasana duka ini? Menahan diri bukan berarti memutus rezeki, melainkan sedang menjemput keberkahan yang lebih besar. Mari kita pastikan bahwa rezeki yang kita bawa pulang tidak menyisakan rasa perih bagi mereka yang sedang trauma akibat musibah.
Percayalah, Allah tidak akan menutup satu pintu rezeki tanpa membuka seribu pintu kebaikan lainnya bagi mereka yang memiliki empati. Karena pada akhirnya, perayaan yang paling sejati bukanlah yang terlihat oleh mata dunia, melainkan yang dirasakan dengan penuh syukur dan kepedulian oleh jiwa. Selamat menjemput tahun baru dalam keheningan yang penuh doa dan solidaritas.

Tinggalkan Balasan