Ketegangan kembali mencuat di perairan dekat Jalur Gaza saat pasukan Israel mencegat armada Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan. Misi yang melibatkan puluhan kapal dari berbagai negara ini bertujuan menembus blokade yang diterapkan Israel di wilayah Palestina tersebut.
Israel menegaskan seluruh proses pencegatan berjalan dengan aman dan lancar tanpa terjadinya kekerasan. Penumpang di kapal-kapal yang dicegat dipindahkan ke sebuah pelabuhan Israel untuk penanganan lebih lanjut.
Proses Pencegatan Kapal dan Penanganan Penumpang
Kementerian Luar Negeri Israel melalui akun media sosial resminya menyampaikan, “Beberapa kapal dari armada tersebut telah dihentikan secara aman dan para penumpangnya sedang dipindahkan ke sebuah pelabuhan Israel.” Armada ini terdiri dari 45 kapal yang membawa politisi serta aktivis dari berbagai negara, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg.
Pencegatan dilakukan pada Rabu (1/10) ketika kapal-kapal itu mendekati wilayah perairan yang menurut Israel masih berada dalam blokade. Informasi dari Global Sumud Flotilla menyebutkan posisi kapal-kapal tersebut sekitar 170 kilometer dari Gaza saat insiden terjadi.
Kontroversi dan Tanggapan Internasional
Pasukan Israel memberikan peringatan agar kapal-kapal tidak memasuki perairan yang diklaim sebagai wilayah blokade. Namun, Global Sumud Flotilla mengklaim kapal-kapal seperti Alma, Sirius, dan Adara dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh pasukan Israel di perairan internasional.
Greta Thunberg yang ikut dalam misi ini disebut dalam kondisi aman dan sehat. Video dari Kementerian Luar Negeri Israel memperlihatkan Thunberg mengambil barang-barangnya sebelum meninggalkan kapal.
Sampai saat ini, belum ada informasi pasti mengenai jumlah orang yang ditahan. Namun, Rina Hassan, anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina, menyatakan ratusan peserta telah ditangkap secara ilegal dan ditahan secara sewenang-wenang oleh Israel selama pencegatan berlangsung.
Reaksi Negara Lain
Kementerian Luar Negeri Turki mengecam pencegatan tersebut sebagai “aksi terorisme”. Turki melaporkan bahwa beberapa warganya yang ikut dalam misi tersebut ditahan dan berjanji akan mengambil langkah diplomatik untuk pembebasan mereka.
Presiden Kolombia Gustavo Petro juga mengumumkan dua aktivis perempuan asal negaranya ditahan oleh Israel saat menjalankan kegiatan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina. Kedua warga Kolombia, Manuela Bedoya dan Luna Barreto, disebutkan dalam pernyataan resmi dan pemerintah Kolombia menyerukan agar mereka segera dibebaskan.

Tinggalkan Balasan