Beranda Nasional Mengenang 15 Tahun Bencana Tsunami Aceh

Mengenang 15 Tahun Bencana Tsunami Aceh

0
Mengenang 15 Tahun Bencana Tsunami Aceh

JAKARTA, CARIBERITA.CO.ID – Lima belas tahun lalu tepatnya pada 26 Desember 2004, tsunami dahsyat yang memakan korban hampir 200 ribu jiwa terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Bencana tsunami itu terjadi tak lama setelah gempa hebat berkekuatan 9,1 Skala Richter mengguncang daerah tersebut

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menjelaskan, tsunami Aceh adalah bencana besar yang mengubah pola pikir Pemerintah Indonesia hingga internasional tentang bencana.

“Pemerintah berpikir penanggulangan bencana tidak sekedar respons, bukan hanya lebih fokus ke respons, ternyata bisa disiapkan sebelumnya (untuk penanggulangan),” ujar Agus, Senin (23/12)

1. Sebelum tsunami Aceh, pemerintah hanya fokus merespons pasca-bencana

Sebelum tsunami Aceh, Agus menjelaskan, pemerintah Indonesia hanya memiliki lembaga yang fokus merespons pasca-bencana saja. Lembaga tersebut adalah Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB).

Lalu setelah tsunami tersebut, lahirlah Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam UU tersebut diatur tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana.

“Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi” bunyi UU Nomor 24 Tahun 2007 Bab 1 Pasal 1 ayat 5

2. Karena tsunami Aceh, BNPB lahir untuk fokus menanggulangi sebelum, saat, dan pasca-bencana

Satu tahun setelah UU tersebut lahir, tepatnya pada 2008, melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dibentuk lembaga independen yang fokus pada penanggulangan bencana secara nasional yaitu, BNPB.

Bukan hanya Indonesia, kejadian tsunami Aceh juga mempengaruhi pola pikir internasional dalam melihat sebuah bencana. Agus menjelaskan, melalui peristiwa tersebut penanggulangan bencana pun dimulai dari sebelum, saat, dan sesudah kejadian

“Mengubah mindset Indonesia dan internasional bahwa penanggulangan bencana sebelum, saat, dan setelah memiliki dampak besar,” lanjutnya

3. Tsunami Aceh menjadi bahan kajian mitigasi bencana tingkat nasional dan internasional

Bukan hanya mengubah mindset, Agus menjelaskan, tsunami Aceh juga menjadi peristiwa yang menjadi bahan riset internasional untuk mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah sebuah langkah yang dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan dari sebuah bencana.

Agus menjelaskan, melalui peristiwa tsunami Aceh muncul kebijakan pembangunan berbasis mitigasi bencana. Kebijakan tersebut berguna untuk mengatur standar pembangunan di daerah yang rawan bencana.

“Iya, kebijakan ada, artinya di pinggir (daerah rawan bencana) boleh, tapi ada mitigasi bencananya, jadi persiapan-persiapan, daerah rawan bencana dibangun boleh, tapi harus disesuaikan,” ujarnya

4. Sosialisasi mitigasi bencana pun dilakukan kepada masyarakat luas

Sampai saat ini, tsunami Aceh masih menjadi bahan kajian untuk mitigasi bencana di Indonesia. Selain fokus pada peristiwa bencana, pemerintah juga mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar daerah rawan bencana.

Sosialisasi tersebut berguna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pada sebelum, saat, dan sesudah bencana. Sosialisasi untuk masyarakat itu bernama Keluarga Tangguh Bencana (Katana).

“BNPB buat Katana, itu buat keluarga menyiapkan menghadapi bencana, agar sadar semua kalau ada bencana banyak yang selamat,” jelas Agus

*Ekki/Dilansir dari Idn Times

 

Comment

error: Content is protected !!